Selasa, 17 Mei 2016

[Giveaway] Selamat Hari Buku Nasional!


Tahukah Mama Papa bahwa setiap tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional? Hari Buku Nasional merupakan gagasan Menteri Pendidikan Abdul Malik Fadjar pada tahun 2002. Sejak saat itu tiap tahun kita memperingati Hari Buku Nasional.

Peringatan Hari Buku Nasional ini untuk menumbuhkan minat baca masyarakat yang semakin menurun. Banyak sekali usaha untuk menumbuhkan minat baca masyarakat pada saat ini, seperti adanya perpustakaan yang semakin banyak, cafe buku di berbagai tempat, pesta diskon buku di berbagai toko buku dan pastinya support penulis buku atau novel indonesia yang kualitasnya tidak kalah dengan penulis buku atau novel luar negeri.


Salah satunya penulis novel favorite saya ini yaitu Ninit Yunita yang familiar dengan panggilan Teh Ninit


Teh Ninit penulis novel yang bukunya sudah tidak perlu diragukan dalam membuat pembaca ikut masuk ke dalam ceritanya. Beberapa karyanya yang di angkat ke layar lebar seperti Heart, Test Pack dan Hijab menambah rasa ingin terus menunggu karya selanjutnya, Apalagi Teh Ninit ini sosok yang supel dan ramah pada setiap orang termasuk pada Saya yang waktu itu baru pertama kali bertemu. Pemilik blog Istri Bawel ini juga pernah memenangkan Favorite Blog Category Personal di Ajang Pesta Blogger 2007 dan masuk dalam top 100 blogs in bahasa indonesia. Pantas saja mata ini dimanjakan oleh isi blognya yang sungguh menginspirasi Saya untuk segera merangkul laptop dan membuat artikel di blog. 

Salah satu founding mama The Urban Mama ini memiliki hobby berlari serta kecintaannya naik Busway Trans Jakarta membuat Saya kagum, ternyata masih ada orang hebat yang mau naik transportasi publik untuk rutinitasnya. Contoh yang baik untuk Saya, makanya Saya jadi cinta Commuterline



Inspiratif sekali kan Mama Papa, yang akhirnya membuat Saya jatuh cinta dan gemar membaca buku dan novel :)

Adakah dari Mama Papa yang memiliki pengalaman tentang kegemarannya membaca buku atau novel? 

Ikut Giveaway nya Yuk, ada 13 buku dan novel untuk Mama Papa. Sssttt.... ada beberapa novel bertanda-tangan asli Teh Ninit lho...


CARANYA IKUTAN #GIVEAWAY #HARIBUKUNASIONAL

1. Gampang banget! cuma perlu ninggalin komentar di artikel ini  pengalaman tentang kegemarannya membaca buku atau novel.

2. Follow akun twitter @mamaayuutami @ninityunita


3. Follow Instagram mamaayuutami


4. Share link giveaway ini di akun sosial media kamu (boleh twitter, facebook, dan Instagram atau semuanya) dan beri hastag #GiveAway #HariBukuNasional dan mention atau tag @mamaayuutami

5. Periode giveaway ini berlangsung dari tanggal 17 Mei sampai dengan tanggal 31 Mei 2016. Pengumuman tanggal 2 Juni 2016 di blog ini dan diumumkan via sosial media  @mamaayuutami

Nanti akan dipilih 13 jawaban terbaik, lalu pemenangnya akan diundi. 

Nah, tunggu apa lagi, ikutan yukkk... :D


46 komentar:

  1. Aaaaa asiiikkk, ikutaaan ahhh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siapp... Di tunggu ya mbak Zata^^

      Hapus
  2. bookmark dulu, sambil nyari inspirasi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sip... Di tunggu inspirasinya Mbak Santi :)

      Hapus
  3. Buku yang paling berkesan buat saya, buku karya Soe Tjen Marching yang berjudul "Mati, Bertahun yang Lalu". Ukuran bukunya cukup slim, tapi isinya sesuatu banget. Saya sampai 3 kali membaca novel itu supaya bisa benar-benar paham maksud dari si penulis. Bukan karena tidak jelas, tapi memang karena "unik" dan wow banget.
    Biasanya saja cepat bosan dengan novel, palingan sekali baca terus udah.. sekali sudah paham, ya sudah.. tapi untuk buku "Mati, Bertahun yang Lalu" dibaca berkali-kali tetep ngena banget.
    Benar-benar membuat pembaca berpikir..

    Kenapa tertarik beli novel itu karena : 1} covernya unik, gambar kue ulang tahun gitu, 2) judulnya berbau horor tp isinya enggak horor, 3) sinnopsisnya mengundang untuk dibaca isinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah... Jadi penasaran nih baca bukunya, makasih sudah berbagi pengalaman membacanya Mbak Elisabet :)

      Hapus
  4. membaca itu.. "memaksa " si pembaca untuk berimajinasi, dan setiap pembaca bisa aja meng-imajinasikannya dengan cara yang berbeda.

    membaca itu .. cara yang mudah untuk bisa keliling dunia, murah pula :D . Padahal udah beberapa kali ke Belanda, tapi begitu baca buku " Negri van Oranye" , rasanya beda aja. Tiap ngelewatin satu lokasi yang digambarkan di buku ini, langsung berasa jadi tokoh utamanya :D .

    selama ini paling suka dengan tulisan-tulisannya Jane Austen, yang selalu dengan bahasa-bahasa indah, mungkin agak sulit dimengerti kalau baca yang versi aslinya, tapi kerasa indahnya. Juga bukuk-bukunya Agustinus Wibowo, kata orang rada sulit dan agak berat, tapi begitu terbiasa, langsung deh ketagihan dan penasaran dengan buku-bukunya yang lain :D.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju Mbak Rahma, buku bisa buat kita berimajinasi yang bisa membuat ketagihan, makasih sudah berbagi pengalaman bacanya Mbak ;)

      Hapus
  5. Hallooo @mamaayuutami ikutan GA nya ya..
    Buku yang paling berkesan buat saya itu buku "Rich Dad, Poor Dad"-nya Robert T. Kiyosaki. Dulu baca versi pdf inggris-nya tahun 2012 bertepatan dengan jaman2 nyusun skripsi. Ceritanya, ayah saya dipanggil Allah 3 bulan menjelang saya sidang. Saat itu saya hampir down, tetapi Allah Maha Baik, secara tak sengaja saat nyari literatur buat melengkapi bahan skripsi saya bertemu dengan buku ini. Setelah dibaca, pikiran saya jadi terbuka. Semangat saya buat lulus sidang jadi kembali menggebu-gebu karena teringat akan perjuangan dan 'didikan' ayah yang digambarkan Robert T. Kiyosaki dengan sangat apik di buku ini. Alhamdulillah, sekarang saya sudah 4 tahun lulus dan mampu membantu bunda menopang ekonomi keluarga :)

    salam semangat,
    @pu3marlina

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Mbak Putri, duhh... Merinding Saya baca komennya, sedikit banyak pengalaman Mbak di tinggal ayahanda mirip dengan Saya, jadi i feel u :( Makasih sudah berbagi pengalaman membacanya Mbak Putri :)

      Hapus
  6. Wuihh asyik nih. Ninggalin jejak dulu. Komentar komplitnya nyusul :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siappp.... Di tunggu jejak kompitnya ya Mbak Yanti ;)

      Hapus
  7. ikutan mbak...
    aku suka baca novel baru-baru ini dan akhirnya ketagihan beli novel..aku lebih suka novel lokal,salah satu novel yang kusuka The Untold Story punya Kristina Yovita,tentang perjuangan seorang gadis tuna netra menjalani kisah hidupnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa... boleh juga untuk referensi neng camay, Makasih sudah berbagi pengalaman membacanya Neng Camay :)

      Hapus
  8. Ikutan ya... udah aku follow semuanya.
    Dulu... saya seringnya baca majalah dan tabloid. Setelah punya anak, jadi tambah lagi bahan bacaan saya yaitu buku2 dongeng. Dan sekarang, nambah lagi sering baca novel. Yang akan saya ceritakan adalah pengalaman membacakan buku cerita untuk anak2 saya. Sejak usia batita, tiap malam saya membacakan buku2 cerita pada anak2 saya. Ternyata anak saya ketagihan dibacain buku cerita, mungkin karena merasa seru dan asyik. Anak saya minta dibacain buku cerita bukan hanya pada saat akan tidur malam. Begitu bangun tidur, tengah hari bolong, baru nyampe rumah setelah bepergian, sore hari ketika nyantai, pasti minta dibacain buku cerita. Saya yang kewalahan. Menolak gak mungkin, menuruti saya kepayahan :) Akhirnya walau kewalahan, saya ikuti kemauan anak saya. Lalu ketika buku2 ceritanya ketinggalan di rumah mbah-nya, anak saya minta dibacain dongeng dari smartphone. Hadeuh... tak ada waktu untuk tidak membacakan cerita/dongeng :) Tapi saya merasa bangga, karena cerita2 saya ternyata diterima anak2 saya :)

    Makasih.... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kebayang ya Mama Santi, ekspresi anak - anak yang semangat sekali saat di bacakan dongeng hihihi... Makasih sudah berbagi pengalaman membacanya Mama Santi :)

      Hapus
  9. kecintaanku dalam membaca terhalang atas ketidak izinan orang tua untuk aku membeli novel. dan apa dayaku sebagai seorang pelajar & anak yang hidup didaerah kota kecil yang tokkko bukunya jauh dari rumah. dan aku tak berani membantah kata orang tua. baca buku tersebut terkadang aku juga sembunyi2, lihat sikon emosional dari orang tuaku :(

    tapi seru banget baca dengan sembunyi sembunyi, ada sensasinya hahahha! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayooo semangat ya Hamida, sisihkan uang jajannya untuk beli buku melalui online book store ;) Makasih sudah berbagi pengalaman membacanya Hamida :)

      Hapus
  10. Kalau buku yang paling berkesan buat aku itu "Kisah Tragis Oei Hui Lan" Ini buku tentang putri orang terkaya di Indonesia. Aku baca buku ini karena papa yang minta. Seumur-umur baru sekali dikasih buku sama papa,dan rada bingung juga kenapa harus buku ini. Trus kalo liat covernya itu lebih kayak buku horor :D Tapi karena papa minta banget aku baca supaya aku bisa cerita ke papa tentang buku ini,jadilah aku mau.
    Dulu,waktu baca dan cerita ke papa,aku ngerasa ga ada yang istimewa sama buku ini,hanya aku jadi suka sama buku yang tentang sejarah kehidupan gitu.

    Tapi sekarang jadi ngeh,di buku ini diajarkan kalau kita harus selalu hidup sederhana walaupun berkelimpahan. yang terpenting di dalam hidup adalah kepribadian,sifat lurus dan kesederhaan.
    *duh aku jadi mewek nulisnya*


    BalasHapus
    Balasan
    1. *ikutan mewek *puk2 , kadang ayahanda memang punya cara sendiri untuk memberi perhatian ke anak ya Mbak Cindy, Makasih sudah berbagi pengalaman membacanya Mbak Cindy :)

      Hapus
  11. Kegemaran membaca buku ini berawal dari kecil saat Papa saya setiap minggu selalu membeli majalah Bobo untuk saya. Kegemaran membaca kemudiN terbawa hingga beranjak remaja dan dewasa.

    Di jaman SMP dan SMA, perpustakaan itu tempat paling aman buat saya bersembunyi hehehe... Membaca buku dari jaman Angkatan 45, Pujangga Baru sampai novel novel kekinian. Agak nerd dibanding teman-teman lain.

    Eh, pas zaman kuliah dapat rezeki kuliah di jurusan yang surganya buku. Sastra Indonesia. Novel pertama yang mengguncang saya adalah tugas baca novel pertama dari dosen, Ronggeng Dukuh Paruk. Ceritanya tentang penari ronggeng. Kalau gak salah sudah pernah difilmkan.

    Ada 2 series novel yang berhasil membuat saya tidak meletakkan buku sebelum tamat. Supernova dan Harry Potter. Kalau Supernova memacu otak saya untuk berpikir tentang sains, budaya, dll dalam satu waktu. Sementara Harry Potter mampu meliarkan imajinasi saya.

    ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya sudah di hati ya berhubungan dengan buku dan novel, senang membacanya, Makasih sudah berbagi pengalaman membacanya Neng Nunung :)

      Hapus
  12. Haii mamaayu.. dini nih, bundanya keisha dari TUM BC Oct'12..
    Ikutan ya..

    Wah, cerita pengalaman tentang membaca buku atau novel ya..

    Aku suka semua genre buku momayu, eh mamaayu. Dikeluargaku aku termasuk yg telat dalam hal gemar membaca novel. Ini karena dulu aku lebih suka baca komik. Dulu mikir gini, ngapain sih baca buku tebel begitu. Enakan baca komik kan. Ada gambarnya, jadi lebih gampang memahami ceritanya. Tapi sejak ada film Harry Potter, maka dimulailah kegemaranku membaca novel.

    Aku ingat banget dulu baca buku Harry Potter yg pertama, The Sorcerer's Stone. Karena sudah nonton filmnya jadi sangat mudah berimajinasi disaat baca bukunya. Tapi setelah baca halaman demi halaman, aku menyadari bahwa bukunya jauhhh lebih seru daripada filmnya! Ga kerasa 1 buku itupun selesai. Walaupun godaan langsung-liat-halaman-terakhir sangat menggoda tapi aku bisa bertahan menyelesaikan buku tersebut secara terhormat alias no cheating (liat halaman terakhir šŸ˜…).

    Dari pengalaman ini yg buat aku jadi suka baca buku mamaayu. Sebagus apapun filmnya pasti lebih seru bukunya. Dan walaupun sekarang sudah banyak buku dalam bentuk softcopy, tetep beda ya rasanya dengan baca buku dalam bentuk hardcopy. Sensasi buka halaman demi halaman, merasakan beratnya buku didalam tas tetap jadi pengalaman tersendiri.

    Sampai sekarang aku masih suka bawa-bawa buku untuk dibaca ditiap kesempatan. Apalagi sekarang sudah ada keisha, harus makin pintar curi-curi waktu untuk baca buku.

    Oiya, buku terakhir yg aku baca adalah sebuah novel terjemahan bergenre thriller, crime dan mystery karya James Patterson yg berjudul Roses are Red. Buku ini bercerita tentang seorang detektif yg mencari The Mastermind (otak kejahatan) dibalik semua perampokan dan pembunuhan yg terjadi. Buku ini tebal juga lho, 412 halaman. Alhamdulillah penerjemahnya oke banget dalam menjalankan tugas, jadi lancar aku bacanya tanpa ada kebingungan 'ini maksudnya apa sih?'.

    Ga ada kesan mendalam setelah baca buku ini. Yaaa seperti buku lainnya dengan genre serupa, aku menangkap pesan si penulis yg seakan-akan mengingatkan untuk 'never trust anyone'.

    Buku yg paling berkesan?
    Kalo ditanya kesan, semua buku berkesan buat aku. Karena menurutku tiap buku punya kisah, punya pesan masing-masing. Apapun itu genrenya, kalau kita jeli, pasti ada aja pesan yg ingin disampaikan oleh penulis.

    Tapi buku terakhir yg meninggalkan kesan yg dalam adalah buku karya Ummuki yg berjudul Dari Tanah Haram ke Ranah Minang: Kisah Pilu TKW di Dua Negeri. Duhhh pilu banget buku ini mamaayu. Ceritanya tentang TKW. Buku ini berdasarkan kisah nyata pengalaman penulis sebagai TKW. Sudah kerjanya berat dan beresiko, sampai Indonesia, di bandara bukannya disambut sebagai pahlawan devisa, malah ditarik uang sama oknum. Miris.

    Yakk.. Sekian cerita pengalamanku mamaayu. Maaf kepanjangan ya. Mudah-mudahan aku yg dapat giveawaynya mamaayu šŸ˜„ amiinn.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lengkap lhoo Mama Dini, menyenangkan ya bisa masuk ke dalam ceritanya hihihi, Makasih sudah berbagi pengalaman membacanya Mama Dini :)

      Hapus
  13. Buku yang paling berkesan bagi saya adalah buku serial Wiro Sableng. Cerita silat yang sangat terkenal karangan Bastian Tito. Itupun saya membacanya hanya via ebook. Awalnya saya tidak tertarik sama sekali. Saya pikir, paling hanya cerita-cerita silat yang disukai anak cowok. Tetapi, suatu ketika saya mencoba serial pertama (entah untuk apa alasannya) saya merasa, saya salah menerka. Saya memang menyukai novel-novel klasik. Cerita Wiro Sableng bukan hanya mengajarkan bagaimana menjadi seorang hero bagi semua orang. Tetapi bagaimana kita menyeimbangkan segala unsur dalam kehidupan. "Di atas langit masih ada langit." Itulah yang paling saya ingat. Persahabatan, cinta, luka, pengkhianatan dan nilai-nilai moral yang sangat kaya dikemas dalam bahasa dan plot yang ringan. Akan ada masa kita tertawa, menangis dan geram ketika membacanya. Dan ketika serial Wiro Sableng habis saya baca, saya merasa sedih, merasa saya harus benar-benar berpisah dari dunia semu yang di bangun Bastian Tito. Oh, ya. Membaca Wiro Sableng saya juga merasa sudah menjelajahi nusantara bahkan Tiongkok dan Jepang. Latar yang sangat kuat.

    Bastian Tito sangat berhasil membuat serial cerita yang tak terlupakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahh Wiro Sableng memang buku segala zaman ya, ayahanda juga suka sekali serial wiro sableng, sayapun sedikit banyak mengikuti serialnya, Makasih sudah berbagi pengalaman membacanya Mbak Julie :)

      Hapus
  14. Ikutan ya mbaaak ^^

    Aku udah seneng banget baca buku sejak bisa membaca (sekitar umur 4,5 tahun). Awalnya suka baca buku-buku dongeng yang lebih banyak gambarnya, lama-lama bisa baca buku yang emang banyak tulisannya, hehe.

    Di antara semua buku yang pernah aku baca, yang paaaaaaaling berkesan adalah ketika aku dibeliin buku Kado Untuk Ummi karya Sri Izzati. Waktu itu umurku masih 9 tahun. Dan aku bener-bener ngerasa wow banget karena buku itu dikarang oleh teman seumuranku! Aku nggak cuman enjoy dari segi ceritanya aja, tetapi itu juga bikin mindsetku berubah. Aku dulunya berpikir kalo segala hal yang dilakukan orang dewasa (kayak nerbitin buku misalnya) itu bisa dilakukan kalau kita udah dewasa. Ternyata, kita juga bisa, kok, menghasilkan sebuah karya positif dari usia dini! Kreativitas itu nggak pandang umur. Membaca buku karya Izzati bikin aku termotivasi buat bikin karya juga.

    ...ya, walaupun nerbitin buku juga masih berupa antologi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat Mbak Audia, Saya dukung Mbak untuk bisa nerbitin buku, Makasih sudah berbagi pengalaman membacanya Mbak Audia :)

      Hapus
  15. mbak, salam kenal dan izin ikutan meramaikan GA-nya ...

    Berikut ini adalah salah satu pengalaman saya membaca sebuah buku yang di dalamnya terdapat penggalan kisah yang ternyata ada kemiripan dengan apa yang saya alami.

    Di tahun 2007, saya sempat membaca sebuah novel atau semacam biografi yang ditulis oleh Wahyuniati Al-Waly istri dari Ustadz Muhammad Arifin Ilham. Istri saya saat itu yang memberikan buku berudul "Ketika Suamiku Menangis" tersebut untuk saya baca. Sebuah buku yang mengisahkan tentang kehidupan rumah tangga mereka, termasuk bagaimana proses khitbah yang dilakukan oleh Ustadz Muhammad Arifin Ilham. Proses tersebut dituliskan oleh sang istri sebagai berikut :

    "Assalaamu 'alaikum," suara serak yang datang dari jauh itu memberiku salam.

    "Wa'alaikumus salam."

    "Saya Muhammad Arifin Ilham," kata suara di telpon itu lagi.

    "Oh, Ustadz. Abuya belum pulang dari masjid," jawabku sekenanya.

    "Apakah aku sedang bicara dengan Dik Yuni?" Kudengar suaranya yang agak gugup.

    "He eh."

    "Boleh aku berterus terang?"

    "Ya, ustadz,"

    "Aku ingin menikahimu karena perintah Allah," katanya.

    "Aku ingin menikah denganmu karena sunnah Rasulullah. Aku ingin terbang ke langit, tapi sayang sayapku cuma satu. Aku memutuhkan satu sayap lagi. Kamu."

    Membaca penggalan kisah tersebut saya jadi menyamakannya dengan apa yang telah saya alami dan lakukan sebelumnya. Kurang lebih sama. Saya menyampaikan keinginan saya untuk menjadikan seorang perempuan sebagai istri saya langsung kepada yang bersangkutan melalui telepon.

    Di bagian lain buku tersebut, saya membaca kisah bagaimana ketika Ustadz Muhammad Arifin Ilham berpisah dengan sang istri karena harus berdakwah ke daerah yang jauh. Meski berpisah raga, hati mereka tetap bertaut melalui komunikasi, salah satunya adalah dengan menggunakan SMS. Kata-kata mesra dikirim dan diterima oleh keduanya secara bergantian. Dalam hati saya tersenyum, karena sesaat sebelum saya membaca kisah tersebut, saya telah mengirimkan beberapa SMS yang mungkin berbau-bau romantis kepada istri saya.

    bila matahari di pagi ini
    mulai menyinari bumi
    pastilah hangatnya tak seberapa
    bila dibandingkan aku dan dirimu bersama

    bila langit di ufuk timur sana
    mulai bermandikan sinar sang surya
    pastilah indahnya tak seberapa
    bila dibandingkan senyum wajahmu nan cantik mempesona

    bila burung-burung berkicau di pagi ini
    bersahutan di sana-sini smabiol bernyanyi
    pastilah merdunya tak seberapa
    bila dibandingkan kelembutan dirimu saat menyapa.

    Twitter : @rifki_jampang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah.. banyak yang bisa di petik ya dari buku ini, bahkan kadang mirip dengan kejadian yang pernah di alami, Makasih sudah berbagi pengalaman membacanya Mas Rifki :)

      Hapus
  16. Ikutan ya mba ayu,

    Jadi yg bikin aq suka baca buku adalah ibuku. Beliau yg dari jaman aq kecil yg mengenalkanku pada buku cerita dan majalah anak. Ketika ibu harus penataran/training di luar kota karena pekerjaannya, kompensasi yg diberikan pasti selalu setumpuk buku bacaan. Mulai dari buku cerita bergambar, majalah bobo dan majalah jadul yg berjudul Kuncung. Ketika udah gedean bacaannya nambah jadi novel, femina, intisari, trubus, florafauna dll. Bahkan paling seneng sm majalah Rumah, karena jadi berimajinasi ttg rumah yg cakep2.

    Nah klo sekarang buku yg masih jd number one favorit adl novel Sabtu Bersama Bapak. Ceritanya inspiratif bgt. Tokoh paling aq suka adl tokoh ibu, karena selain tangguh, dia juga sabar dan mandiri. Tokoh favorit kedua adl bapak, sangat legowo dan sabar menerima takdir. Alih2 menyerah, si bapak malah makin giat bekerja agar dpt memenuhi kebutuhan klganya sblm ditinggalkan. Cerita2 videonya sungguh menyentuh.

    Selesai membaca novel ini, rasanya pngn minta suami utk baca juga, biar terinspirasi. Sygnya doi gak doyan baca. Hihi. Tapi kabar baiknya buku ini mau difilmkan. Waah jadi gak sabar nunggunya :) dan harus nonton berdua suami, biar doi gak perlu susah2 baca novelnya.


    Sekian,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Senang deh rasanya banyak orangtua yang masih suka menghadiahkan anaknya buku, jadi terinspirasi dengan beliau mbak, novel Sabtu Bersama Bapak memang salah satu novel yang membuat air mata bercucuran hihihi, aku pun suka, Makasih sudah berbagi pengalaman membacanya Mbak Tia :)

      Hapus
  17. Ikutan ya, Mbak. Sharing tentang pengalaman membaca buku nih.

    Ceritanya saking senangnya baca buku dari kecil, saya sempat bercita-cita punya perpustakaan untuk anak-anak yang ada di sekitar rumah. Belum sempat cita-cita tersebut terwujud, beberapa tahun lalu seorang sahabat mengajak saya dan beberapa teman lain membuat sebuah komunitas yang menyediakan fasilitas pinjaman buku bacaan bagi anak-anak panti asuhan atau anak-anak tidak mampu. Wah, dream comes true ya.

    Komunitas itu bernama Buku Berkaki. Pada tahun 2011, kami berusaha mengembangkan komunitas tersebut. Menggalang donasi buku dengan cara buka lapak di CFD Monas, mengenalkan Buku Berkaki lewat media sosial sampai mengunjungi beberapa panti asuhan untuk meminjamkan secara gratis buku-buku hasil sumbangan.
    Masih terbayang di hati saya wajah-wajah sumringah dan semangat anak-anak panti melihat aneka buku yang dapat mereka baca, karena selama ini mereka kurang memiliki akses terhadap buku-buku anak berkualitas.

    Sayang, karena kesibukan masing-masing pengurus, komunitas ini sempat vakum selama hampir 2 tahun. Tapi 2 tahun yang lalu, dimotori oleh pengurus-pengurus baru yang hebat dan sangat berdedikasi, Buku Berkaki sekarang menjadi semakin besar dan alhamdulillah dapat melangkahkan kakinya semakin jauh.

    Bukan hanya anak-anak panti asuhan atau yang kurang mampu di Jakarta yang mendapat pinjaman buku dari Buku Berkaki. Adik-adik di daerah pedalaman pun kini dapat menikmati buku anak-anak yang bagus melalui kerjasama dengan komunitas dari berbagai daerah.

    Meskipun saya tidak lagi aktif di Buku Berkaki karena sudah nggak tinggal di Jakarta, pengalaman menjadi bagian dari komunitas keren ini sangat berharga bagi saya. Hanya dari hobi membaca buku, saya dipertemukan Tuhan dengan orang-orang hebat berhati mulia yang ingin supaya anak-anak Indonesia di manapun berada, bagaimanapun kondisi sosialnya menjadi anak-anak yang cinta buku.

    When a book walks, a dream works.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Inspiratif sekali mbak Alfa, Semoga komunitas bukunya semakin berkembang dan menambah minat baca anak - anak dan semua kalangan, Makasih sudah berbagi pengalaman membacanya Mbak Alfa :)

      Hapus
  18. Ijin ikut ya :D

    Aku gemar baca buku sejak... lupa. Buku yang pertama kubaca... lupa juga. Buku yang berkesan... banyak. Yang mengajariku untuk jadi orang yang suka baca... nggak tahu juga. Hahaha...
    Iya, terlalu lama sejak aku menjadi sosok yang suka membaca.
    Kata ibuku, aku bisa membaca lebih dulu dari teman-teman seusiaku waktu itu. Sejak TK kecil, aku sudah rajin meminjam buku cerita. Guru TKku bahkan memberikanku hak khusus untuk meminjam buku-buku itu, padahal teman-temanku nggak boleh pinjam. Katanya kalau buku itu aku yang pinjam, pasti akan dibaca. Tapi kalau dipinjam anak lain, biasanya akan berakhir dengan beberapa lembar buku yang sobek.

    Aku paling suka baca buku fiksi, romance, lokal. Tapi suka juga baca buku-buku luar negeri angkatan 50an yang kecil kecil itu, tapi lebih milih yang masih berbahasa asli (bukan terjemahan) dengan wujud buku yang udah buluk.

    Memiliki kegemaran membaca cukup menguntungkan bagiku. Aku termasuk golongan orang yang tahan baca jurnal ilmiah dan paper lebih lama dibandingkan teman-temanku yang nggak suka baca.

    Koleksi bukuku, lumayan bikin repot tiap kali pindahan kos. Aku jadi sasaran empuk temanku kalau ada kegiatan yang butuh sumbangan buku. Beberapa orang rajin menyambangi kamar kosku, buat pinjam novel doang. Yah, nasib :(

    Selain hobi baca buku, aku juga hobi bikin review buku. Blogku juga membahas segala hal dengan buku (aku komen pake name/URL kok, siapa tahu ada yg penasaran sama blogku klik aja namaku) (iya ini promosi terselubung) (digampar). Menurutku, membuat review setelah membaca buku membuatku lebih kritis dan lebih ingat dengan cerita yang barusan kubaca. Aku selalu tertarik dengan karakter dari setiap tokoh dalam sebuah cerita, makanya setiap kali aku mereview, aku akan cenderung lebih concern di bagian karakter.

    *rapal mantra dan jampi-jampi*
    twitter, instagram: @widywenny

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahhhh... senangnya kamar penuh buku, saya juga termasuk pencinta buku tapi tipe peminjam hihih, maafkan ya mbak Wenny kalau banyak yang seperti saya, semangat terus mbak ngeblognya *eh membacanya maksud saya, Makasih sudah berbagi pengalaman membacanya Mbak Wenny :)

      Hapus
  19. Sebelumnya saya minta maaf karena tidak bisa mengikuti instagram Kak Ayu, saya gak punya ponsel pintar kak. Saya ikut meramaikan saja.
    Pengalaman paling berkesan dalam membaca buku atau novel saya alami ketika duduk di bangku SMP waktu itu saya mendapat tugas dari guru Bahasa Indonesia untuk membaca satu judul novel untuk kemudian dicari unsur-unsur dari novel yang saya baca. Waktu itu saya membaca novel berjudul "Pada Sebuah Kapal", karya N.H.Dini, novel ini bercerita tentang gadis Indonesia yang jatuh cinta dengan seseorang yang ia temui pada sebuah kapal yang ia tumpangi. Kehidupan percintaan gadis bernama Sri ini juga cukup rumit. Mulai dari meninggalnya kekasih yang dalam waktu dekat akan menikahinya hingga kisah rumah tangganya dengan seorang pri Perancis membuat tokoh utama dalam novel ini dilanda kegelisahan. Sejak saat itu saya suka jenis novel yang menceritakan tentang kegelisahan manusia dalam menghadapi cinta. Kesukaan saya pada novel semakin menjadi-jadi setelah pada tahun 2014 lalu saya berhasil membaca sayap-sayap patah selama lima kali berulang-ulang. Novelnya sesuatu banget pokoknya. Kasih tak sampai sang tokoh aku pada Selma Karamy dipaparkan dengan bahasa yang nyastra banget. Novel Kahlil Gibran itu tidak pernah gagal membuat saya jatuh cinta. Dua judul novel tersebut telah memberi pengaruh pada kegemaran membaca saya. Kini saya akan melakukan banyak hal untuk bisa dapat buku bacaan, termasuk ikut kuis seperti sekarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahh Mas Asep novel yang di baca menarik ya, saya juga suka buku novel yang perlu pemahaman tingkat tinggi, tapi kadang belum sampai karena terlalu berat hihihi, Makasih sudah berbagi pengalaman membacanya Mas Asep :)

      Hapus
  20. Ikut ya mbak...mepet DL

    Sebenarnya, buku yang saya punya nggak begitu banyak. Semenjak punya anak --entah lah, semuanya banyak teralih ke anak. Kalaupun mengagendakan berakhir pekan dengan ke toko buku, pulang-pulangnya juga pasti nenteng buku anak-anak. Makanya, saya sering berburu GA berhadiah buku, biar bisa menambah koleksi buku saya, mengobati dahaga akan membaca, dan bisa untuk investasi masa depan anak-anak.

    Saya penggemar buku fiksi. Paling berkesan adalah saat seorang sahabat menghadiahkan Supernova; Ksatria, Putri, dan Bintang jatuh di ulang tahun saya yang ke 22. Yup, tahun 2002, saat novel Dee itu tengah meledak; mengguncang dunia sastra di Indonesia kala itu. Saya merasa novel itu memang beda. Begitu kaya, perpaduan antara sastra-ilmiah yang saya bilang Mantap atau orang Jogja bilang JOSS!

    Nggak sekali mbaca trus paham, itu uniknya. Jadi memang kadang mesti mikir dulu sembari mbaca. Itu yang saya suka. Oh..iya, lewat sosok Rana, saya jadi makin tertarik untuk terjun di dunia media. Pengen ngrasain, seperti apa ketika adrenalin terpacu memburu deadline. Saat dulu membaca itu, terobsesi untuk nemuin suami sedewasa Arwin, dan seromantis Fere. Tapi untuk gadis panggilan se smart Diva...sampe hari ini belum menemukan.* nggak ngerti ttng dunia begituan juga :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kadang ada beberapa sosok di novel yang membuat kita kagum ya Mbak Sulis, memang novel indonesia banyak yang mengguncang dunia sastra di indonesia, makanya saya suka sekali novel indonesia, Makasih sudah berbagi pengalaman membacanya Mbak Sulis :)

      Hapus
  21. Nama : Nyi Penengah Dewanti
    Twitt : @nyipenengah
    Email: nyipenengahdewanti@gmail.com
    Link Share: https://twitter.com/NyiPenengah/status/737505116656279552

    Waktu itu tahun 2012 saya membeli buku di toko Indonesia, posisi saya di Hongkong jadi TKW. Buku yang saya baca menginspirasi sekali, buku itu berjudul “9 Summers 10 Autumns”, karya Iwan Setyawan. Dia menulis dengan apik kisah hidupnya, dari rumah hingga bisa sampai New York. Kenapa saya tidak menulis kisah saya dari rumah hingga bisa sampai ke negri Beton. Akhirnya berbekal buku tersebut, saya belajar alur dan hal-hal yang bisa saya pelajari. Bagaimana sebuah buku bisa memberi manfaat untuk yang lain. Alhamdulillah setelah perjuangan panjang, menulis saat majikan pergi ke London, hingga mengajukannya ke penerbit berbeda, ditolak kirim lagi, tolak kirim lagi. Akhirnya novel memoar saya dengan judul promise, Love and Life diterbitkan Quanta, Elexmedia. Saya rasa dengan sebuah buku yang kita baca, kita bisa menganakpinakan menjadi buku lagi.

    Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Senangnya, sebuah buku bisa menginspirasi menerbitkan buku juga, semoga kedepannya anak pinak buku bertambah banyak ya Mbak Dewanti, Makasih sudah berbagi pengalaman membacanya Mbak Dewanti :)

      Hapus
  22. Ada satu buku yang amat saya sukai "Kisah Tragis Oei Hui Lan" true story yang disadur ke dalam sebuah novel.

    Selain saya yang emang menyukai sejarah, di buku tsb kisah hidup sang Putri kaya pun begitu menginspirasi. Bahwasanya kekayaan hati lah yang utama di atas segala-galanya yang ada di dunia ini. Ketangguhan hati dalam menjalani hidup bisa banget dipelajari dari kisah hidupnya yang "tragis".

    Belum lagi setelah ngebaca buku ini, saya ingin menapak tilas lokasi mana saja yang yang pernah singgah di hidup sang Putri.
    Hotel Tugu Malang, salah satu lokasi di mana pemili hotel menghadirkan nuansa oriental plus kisah singkat keluarga Oei Hui Lan. Tapi...errrrrr kemarin sewaktu dinas ke Semarang saya terlewat untuk menapak tilas huhuhu.
    Masuk dalam list nih kudunya supaya nggak terlewat lagi, Semarang, Singapore...London haha aamiin.

    Karna bagaimana pun "bangsa yang besar ialah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya sendiri" :)

    Nama: dwi sari
    IG dan Twitter: @ki_seki

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aminnn....Semoga napak tilasnya kesampean ya Mbak Dwi, Saya dukung nanti ajak2 ya mbak, Makasih sudah berbagi pengalaman membacanya Mbak Dwi :)

      Hapus
  23. FB : Hanny Nursanti
    Twitt: hnCe1
    IG : Hanny_NR

    Lima Sekawan karangan Enid Blyton adalah novel remaja yang pertama kali saya baca ketika masih SD, dan langsung jatuh cinta.

    Alur cerita petualangan lima orang bersaudara ini plus anjingnya skippy, seperti sungguhan, membuat saya berhayal menjadi salah satu dari mereka.

    Apalagi gak lama kemudian TVRI menayang film seri tentang mereka, semakin getol bacanya, apalagi kemudian almarhum bapak saya membelikan buku Enid Blyton seperti Sapta Siaga, trio detektif, dan seri cewek badung dari Malory Towers.

    Sampai akhirnya Saya dipinjemin buku cerita TInTIn beserta kapten haddock dan anjingnya Snowy, whuaaaaaah sukaaa sekali keinginan saya jadi wartawan tumbuh dari sana.

    Sayang bukunya tintin jaman duluuu banget masih mahal, jadi cukuplah berpuas diri dengan membaca milik teman yang kebetulan punya kumplit semua serinya.

    Cerita yang ada bau-bau wartawan dan detektif kayak gini, juga saya baca di serial Imung detektif kampung. Si imung ini jadi detektif dan nulis berita di mading sekolah secara gak sengaja karena kebetulan bapaknya kerja sama polisi.

    Apakah buku2 ini hanya sekedar jadi inspirasi dan kesukaan di masa kecil? Tentu saja enggak dong, saya jadi hobby nulis diary, bikin cerpen, ambil kuliah komunikasi jurusan jurnalistik, yap saya jadi wartawan seperti TInTIn juga akhirnya, bertemu suami yang jadi jurnalis juga.

    Suami saya juga hobby baca, novel-novel milik John Grisham, Dan Brown, Sydney Sheldon, Supernovanya dee lestari dll kita koleksi bareng-bareng.

    kalau dilihat-lihat kayaknya kita suka semua buku, tapi yang paling disuka tentang petualangan, misteri dan jurnalis.

    Saya bertekad, buku-buku dan novel kesukaan saya ketika kecil dulu, bisa saya koleksi lagi, biar anak saya ikutan baca dan berhayal. Berani mengarungi dunia tanpa takut serta berimajinasi tanpa batas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Hanny, Saya juga penggemar Enid Blyton versi Kiki, kebetulan dapet koleksi dari kakak dulu dan suka nonton di TVRI, menyenangkan sekali ya, Makasih sudah berbagi pengalaman membacanya Mbak Hanny :)

      Hapus