Selasa, 24 April 2018

Relaktasi Demi Menyusui Hingga 2 Tahun | ASI Talk With Maiko


Breastfeeding mom. Setiap mama yang memiliki bayi tentunya memiliki naluri keibuan yang ingin memberikan yang terbaik pada buah hatinya. Salah satunya ASI, hal terbaik yang diberikan oleh Yang Maha Esa melalui seorang ibu untuk buah hatinya. Namun ada beberapa mama bahkan banyak mama di sekitar kita yang memiliki kendala dalam menyusui buah hatinya, padahal mama memiliki tekad yang kuat dan keinginan yang teguh untuk menyusui buah hati mama hingga 2 tahun.

Saya ingin berbagi cerita tentang perjuangan salah satu mama pejuang ASI yang dapat menginspirasi mama untuk pantang menyerah dalam menyusui buah hati mama. Yuk ma, kenalan dengan Mama Anggun, mama Anggun adalah Mommy dari Alexi yang saat ini berusia 9 bulan.

Berikut cerita Mama Anggun :

Hai mom , saya Anggun mommy dari Alexi 9 bulan. Saya ingin sharing tentang proses relaktasi yang saya jalani. Singkatnya menyusui kembali setelah ASI sudah kering. 

Pertanyaan yang banyak sekali ditanyakan seperti, masih bisakah mama? Alhamdulillah saya bisa dan sekarang menyusui full ASI untuk Alexi.

Saya mulai ya mama. Alexi lahir 26 April 2017, pada saat Alexi lahir, ASI saya belum keluar hingga 1 minggu. Jadi sejak lahir, Alexi minum susu formula. Saya tetap memompa ASI pada saat itu, namun tidak mencukupi kebutuhan Alexi, akhirnya saya berhenti menyusui dan full memberi sufor pada Alexi. Setiap saya mencoba dekati payudara saya pada Alexi, ia menolak sambil tak hentinya menjerit. Hati ibu mana yang tak sedih, melihat bayinya menolak hal yang terbaik yang ingin diberikan oleh ibunya. Jujur saya sangat ingin menyusui, tapi apa daya pada saat itu saya berpikir ASI saya tidak cukup hingga akhirnya saya pasrah sama memberi sufor.

Kemudian, saat Alexi berusia 3 bulan, tiba-tiba timbul  gejala alergi pada Alexi, seperti napasnya bersuara grok grok, saat malam keluar lendir pada hidungnya, walau saya yakin tidak timbul pada siang hari dan kadang timbul ruam bintik. 

Setelah saya konsultasi dengan dokter spesialis anak (dsa) Alexi, ia didiagnosa alergi susu sapi. Lalu dimulai drama gonta - ganti sufor. Dari susu formula yang murah hingga yang mahal, dan sufor non protein yang rasanya sangat pahit. Di sini titik terendah saya. Haruskah anak saya minum susu rasa pahit? Haruskah suami saya sisihkan uang untuk beli susu formula yang mahal? (Saat itu sufor yang saya beli 300gr dengan harga sekitar 300ribu) .

Karena saya pusing, bingung, membuat saya jadi gundah, gelisah, dan saya yang berstatus working mom akhirnya kehilangan konsentrasi saat bekerja, tidurpun jadi tidak nyenyak. Kemudian saya bertanya kembali pada dokter anak Alexi, apakah ada cara lain supaya anak saya tidak alergi? Dan dokter anak Alexi menjawab, ASI. Saya tertegun.

Lalu dokter anak Alexi merujuk Alexi pada dr. Asti atau dr.Anjar (dokter anak sekaligus konselor laktasi) di RSIA Kemang Medical Care (KMC). Setelah Saya googling, membaca artikel blog tentang relaktasi serta membaca kisah sukses relaktasi sebanyak - banyaknya. Seminggu kemudian saya memutuskan datang ke KMC bertemu dengan dr. Anjar. Beliau langsung meminta saya rawat inap. Saat itu suami tidak setuju untuk program relaktasi rawat inap (mungkin suami berpikir sangat berlebihan sampai harus rawat inap hanya karena tidak bisa menyusui).

dr. Anjar mengedukasi saya yang selalu saya ingat hingga saat ini : 
Menyusui itu hanya 2 tahun pertama di kehidupan anak kita. Selanjutnya tidak akan terulang. Dan kenapa Alexi tidak mampu menoleransi susu sapi? Karena susu yang paling baik buat dirinya adalah susu ibunya, makanya kita sebagai perempuan diberikan payudara oleh Allah dan di Al Quran juga tertulis bahwa menyusui wajib hingga 2 tahun bahkan lebih.

Sampai akhirnya alexi diare selama seminggu karena tidak cocok lagi dengan suu formulanya. 

Jujur sebagai ibu saya lelah, mengapa anak saya menjadi korban? Kenapa dulu saya tidak bisa memberi ia ASI? Kenapa dulu saya tidak rajin pumping? Kenapa pada saat hamil saya mengabaikan tentang proses menyusui? Dan harus berapa kali saya mengganti susu formula? Pertanyaan - pertanyaan itu yang selalu terlontar dipikiran saya. Setiap malam saya memandang Alexi, saya seperti berdosa, seperti memiliki hutang “mengapa saya tidak bisa memberikan yg tebaik buat anak saya (menyusui)?”

Setelah berdiskusi panjang lebar akhirnya suami mengizinkan saya untuk mengikuti program relaktasi. Sebulan setelah pertemuan dengan dr. Anjar, barulah saya ikut program relaktasi.

Nah di sini saya akan jelaskan sedetail mungkin proses relaktasinya :

(Usia alexi pada saat itu 4mo)

Skin to skin

Jam 12.00
Saya masuk kamar rawat inap. Kok berlebihan sekali ya sampai harus rawat inap? Iya, supaya prosesnya cepat. Saya tidak punya waktu banyak karena saya working mom, saya cuma ingin secepatnya anak mau nenen. Prosesnya Alexi diikat kain jarik ke badan saya tanpa menggunakan baju, Alexi hanya memakai diapers saja, kemudian saya pakai jubah kangoroo yang telah disiapkan khusus oleh KMC. Lalu saya sangsi, apakah hanya seperti ini saja, anak saya bisa nenen lagi? yakin bisa keluar ASI? yakin tidak sia-sia mengeluarkan biaya kamar hanya mengendong anak seperti kangoroo?





Jam 18.00 (adzan magrib)

Tiba-tiba Alexi yang sedang tidur digendongan saya, sibuk di puting dan dada saya, Alhamdulilah finally Alexi nenen, rasa haru tak terbendung dan saya menangis luar biasa.

Semenjak ia sudah mau mencari puting saya, Alexi mulai nenen ketika haus, tapi ada masanya dia tidak sabar , mungkin sedang ingat media menyusui yang dulu menyebabkan ia bingung puting. Saat ia menangis dan menjerit tanpa henti, biasanya saya memberi Alexi ASIP menggunakan media cup feeder supaya puas minumnya glek… glek…

Sekedar informasi, pada saat saya dan Alexi rawat inap,  tim laktasi sangat support. Sehari bisa di visit 7x. Saya masuk RS sabtu siang, minggu sore sudah bisa pulang alhamdulilah proses cepat dan lancar. 

Kamar rawat inap : tipe panda (sekamar 3 orang), tidak perlu mahal karena hanya untuk relaktasi.

Supplementary Nursing System (SNS)

Seketika saya memanggil suster , langsung membantu saya memasang Supplementary Nursing System (SNS). Akhirnya saya merasakan yang namanya menyusui untuk pertama kali. Walapun hanya 5 menit , lepas , menangis, nenen , lepas , menangis. Tim laktasi menginformasikan pada saya kalau prosesnya memang seperti ini dan Alexi sedang adaptasi. Baiklah saya bersabar, lagi dan lagi, lebih baik saya berkerja keras daripada anak saya minum susu yang tidak cocok dan membebani pengeluaran suami untuk susu formula yang mahal.

Lalu, bagaimana cara menyusui Alexi kalo ASInya sudah kering? Oiya mama, SNS ini saya pakai sebulan dengan segala atributnya yang memang membutuhkan tekad mama yang kuat. Setiap saya menyusui dibantu SNS sekalipun itu tengah malam. Jadi benar-benar STOP MEDIA YANG MEMBUAT BINGUNG PUTING. Oiya ma,  1 lagi Alexi harus stop dot karena menyebabkan Alexi bingung puting total dan tidak mau menyusu pada saya. Jadi tips nya seminggu sebelum program relaktasi, anak diajarin dulu minum pake gelas, cup feeder, soft cup feeder. Pokoknya No dot! 

Dosis SNS :

Saya pakai di pagi hari jam 06.30 sebelum berangkat kerja , jam 18.00 saat pulang kerja , sebelum tidur , dan tengah malem. 

Isinya sufor 60cc , setelah 2 minggu kontrol turun dosis jd 30cc (dosis turun karena ASI sudah keluar). Kalo sufornya habis lanjut menyusuikah? Of course mama, biar payudara terangsang untuk memproduksi ASai lebih banyak. Karena kunci paling utama adalah HISAPAN BAYI. tanpa hisapan bayi semua usaha akan sia-sia.

Harga SNS : 600rb an beli di tokped. Tips dari saya, sebaiknya mama membeli di luar RS karena lebih terjangkau harganya.

Tongue Tie & Lip Tie

Dokter visit menginformasikan pada saya kalau Alexi memiliki tongue tie & lip tie, makanya Alexi sulit saat menyusu langsung pada saya, disarankan untuk insisi pada tongue tie & lip tie Alexi, selain itu saya memiliki flat nipple yang menambah Alexi sulit menyusu langsung pada saya.

Esok hari
Alexi diinsisi, drama saat gunting Alexi menangis menjerit tak henti, mungkin karena kagett, tapo tak berselang lama, Alexi langsung menyusu pada saya, efek baiknya dari insisi : latch on bagus jadi puting tidaklecet , tidak mudah gumoh, bibir tidak terlipat saat nenen, jadi Alexi menghisap puting dengan dalam dan terlihat lebih puas. Saya semakin bahagia, akhirnya saya bisa saling menatap buah hati saya saat menyusuinya. Saya terharu ternyata indahnya breastfeeding.

Akupuntur
Hari pertama dan kedua rawat inap saya menjalani akupuntur. Untuk apa ya harus akupuntur? Fungsinya supaya titik-titik kelenjar ASI hidup kembali, sebelumnya telah tertutup karena stop memompa dan menyusui). Akupuntur penting sekali mama, jika casenya seperti saya. ASI yang sudah kering dalam program memerlukan 12x akupuntur , minimal seminggu 2x akupuntur. Tapi saya hanya 4x akupuntur saja, karena ASI saya sudah lancar. Supaya tidak membebani suami saya terlalu banyak, visit dokter akupuntur hanya sekali, selebihnya hanya treatment saja, karena prosesnya sama.

Domperindone (dompe)
Saya dikasih resep domperindone. Dompe ini adalah obat mual yang cara kerjanya dapat bermanfaat juga untuk meningkatkan/ menghidupkan kelenjar asi. Jadi sebulan saya minum ini, tentunya sesuai dengan dosis yang diberikan oleh dokter.

Hore, akhirnya kami bisa pulang dari RS hati gembira ria dan Alexi bisa nenen.

Apakah masalah selesai? Belum mama. Tugas rumah terbaru adalah stock ASIP! (Air Susu Ibu Perah),  Punya ASIP kah saya? Tidak! , Tetep semangat? PASTI! Setidaknya saya sudah berhasil NENEN *bangga

Working mom = Pumping
Saat di rumah Alexi minum pake media apa? gelas, cangkir, cup feeder. Tumpah-tumpah kah? Tentu saja ma, tapi tenang lama - lama akan bisa tanpa tumpah. Semua memang butuh proses, tetap semangat ma. Selama ditinggal minum apa? Susu formula soya.

Jangan sedih mama, jika ada yang bilang pumping hanya basahin pantat botol saja! Hal tersebut tidak menyurutkan semangat saya untuk terus menyusui, saya pasti bisa, saya yakin bisa, saya pasti bisa punya ASI. Menyusui memang harus keras kepala ma , karena godaannya sangat besar, harus konsisten, suka tidak suka,  mau tidak mau, harus, karena demi anak.

Jadwal pumping 4x selama di kantor per 15menit /2 payudara.

Hasilnya : 
2 hari hanya embun saja. Hari ke 3 keluarlah setetes kebahagian. Saat itu saya berpikir, see… tidak ada usaha yang sia-sia kalau kita yakin, Allah tidak tidur. Hari demi hari saya kumpulkan ASIP dari setetes sampai bisa mengisi dosis SNS dengan ASIP, bukan dengan sufor lagi. ASIP hari ini diminum untuk besok, jadi saya zero stock ya mama. lalu anaknya kalo haus bagaimana? Saya tambah saja sufor soya. Tidak perlu bingung mama, hindari hal - hal yang membuat mama pusing supaya ASI mama tidak drop. Pekerjaan saya sebagai marketing di kantor mengharuskan saya untuk bisa pumping di mana saja, di mobil, , di toilet jika sedang darurat atau tidak ada tempat untuk pumping atau bahkan disela-sela meeting dan training. Prinsip saya “jika saya tidak pumping, lalu anak saya minum apa besok?” Sekarang saya bawa ASIP dari kantor total 150-170cc, bagi saya pencapaian yang besar dari mulanya kering ASIP.

MPASI Dini 
Umur 4 bulan 1 minggu Alexi MPASI dini. Kenapa ma? Supaya mengurangi asupan sufor, karena pada dasarnya anak saya memiliki alergi, bukan karena saya anti sufor. MPASI dini ini pun atas saran dokter, dan bersyukur Alexi semakin jarang ruam atau bahkan tidak diare seperti dulu drama sufor.  Dan semenjak MPASI dini saya bisa memberikan Alexi full asi. 

Saat ini saya sudah lepas dari bantuan SNS, setelah 1 bulan memakai alat bantu suplementasi. Alexi sudah bisa sampai ketiduran saat nenen , glek... glek... glek… sampai bisa bersendawa lalu tidur pules yang artinya ia sudah kenyang hanya dengan direct breastfeeding 1 payudara aja. Bahagianya mama nak.

Demikian cerita mama Anggun yang tentunya dapat menginspirasi mama yang sedang berjuang menyusui demi buah hati mama, tidak ada perjuangan yang sia-sia demi buah hati mama, tetap semangat and let’s breastfeeding until 2 years...

Kamis, 19 April 2018

"Anti Stres Menyusui" Handbook Bagi Ibu Menyusui | Book Review


Tanggal 15 April 2018 kemarin saya menghadiri book launching “Anti Stres Menyusui” di Kemang Medical Care, buku berjudul Anti Stres Menyusui karya penulis dr. Asti Praborini,Sp.A.,IBCLC dan dr. Ratih Ayu Wulandari, IBCLC. Buku yang ditulis oleh 2 konsultan ASI bersertifikat internasional ini dengan tujuan sebagai pedoman para mama yang bertekad untuk menyusui buah hatinya hingga 2 tahun.

Menurut saya, yang saat ini juga sedang menyusui bayi usia 18 bulan, buku ini sangat bermanfaat sekali bagi seorang ibu yang memerlukan dukungan penuh untuk tekadnya menyusui hingga 2 tahun. Selain suami, keluarga serta kerabat sebagai tim sukses mama, buku ini dapat menjadi penyemangat mama untuk berjuang mengASIhi bayi mama hingga 2 tahun. Ya ma, mengapa saya tekankan hingga 2 tahun, karena ASI adalah hak semua bayi yang telah disiapkan Allah melalui mama.

Buku yang ditulis oleh 2 konsultan yang telah lama berkecimpung di dunia perASIan ini, memanjakan mama dengan bahasa penyampaian yang mudah mama pahami, lembaran demi lembaran berwarna dan penulisan dalam buku yang eye catching, membuat mama ingin terus membaca sampai habis.

Di awal buku Anti Stres Menyusui, penulis menyampaikan bahwa menyusui adalah perintah agama dan negara, anjuran pemberian ASI yang tertuang dalam kitab semua agama dan diatur di pasal UU oleh negara, sebagai dukungan mama menyusui.


Buku yang berjumlah 328 halaman ini mengerti segala kegundahan seputar masalah yang mama hadapi saat mama menyusui. Bahkan buku ini membahas mengenai ibu bekerja yang tetap menyusui bayinya, terharu saya saat membaca bab ini, karena penulis seperti memahami kegundahan kami ibu pekerja yang kekeuh ingin tetap menyusui bayinya seperti saya.

Buku Anti Stres Menyusui memuat beberapa cerita inspiratif tentang perjuangan seorang mama, demi menyusui bayinya yang tentunya membuat mama semakin semangat dan yakin saat menyusui bayi mama.



Buku ini juga ditujukan bagi mama yang sedang hamil, menunggu kelahiran bayi mama atau ingin menyusui bayinya kelak, karena di dalamnya membahas mitos atau fakta dan bagaimana persiapan mama menyusui kelak saat bayi mama lahir. Beruntungnya mama yang sedang persiapan atau sedang menyusui saat ini, memiliki buku Anti Stres Menyusui sebagai handbook A to Z bagi ibu menyusui, karena saat awal saya menyusui anak pertama dulu dan anak kedua saat ini, buku ini belum terbit ma.

Mungkin mama penasaran apakah bayi hanya diberi ASI saja hingga 2 tahun? Tentu tidak ma, saat bayi memasuki usia 6 bulan, bayi akan dikenalkan dengan makanan pendamping ASI. Mengapa begitu? Tenang ma, rasa penasaran mama akan terjawab dalam buku ini.
Sekian book review “Anti Stres Menyusui” dari saya, semoga book review ini sedikit memberi mama gambaran, bahwa buku ini worth to buy. Mama bisa segera menghilangkan rasa penasaran mama dengan membeli buku ini di Gramedia atau toko buku besar terdekat di kota mama. So… Grab it fast ma, and Happy Breasfeeding for All Mama in the world...

Minggu, 15 April 2018

Book Launching "Anti Stres Menyusui"


Hari minggu tanggal 15 April 2018 kemarin, saya menghadiri book launching "Anti Stres Menyusui" di RSIA Kemang Medical Care. Buku ini ditulis oleh dr. Asti Praborini, Sp.A.,IBCLC dan dr. Ratih Ayu Wulandari, IBCLC. Beliau adalah konsultan ASI yang bersertifikat internasional.

Cara Mudah Mewarnai Rambut Di Rumah


Setiap istri merangkap seorang ibu yang tentunya memiliki kegiatan segudang, selain memperhatikan wajah mama supaya terlihat bersih dengan perawatan yang mudah setiap hari, pasti mama juga ingin tampil lebih trendi di depan suami dan keluarga. Salah satunya dengan mewarnai rambut supaya mama terlihat berbeda dan fresh. Tenang saja ma, bagi mama yang punya keinginan untuk mewarnai rambut namun tidak sempat ke salon, saya punya cara mewarnai rambut di rumah yang mudah sekali diikuti.

Rabu, 11 April 2018

Cara Mudah Perawatan Wajah Di Rumah



Seringkali saat mama menjadi seorang ibu, prioritas untuk diri sendiri semakin berkurang, mama pasti lebih mengutamakan anak dan keluarga dibanding diri sendiri. Tenang ma, I feel you, sering kali ada rasa bersalah jika waktu yang kita gunakan untuk keperluan diri sendiri. Contohnya perawatan wajah, jika mama saat belum berkeluarga dulu sering mengunjungi salon untuk facial, sekang pasti sudah jauh berkurang mengunjungi salon.

Makanya, saya ingin berbagi dengan mama, cara mudah perawatan wajah di rumah yang sampai saat ini saya terapkan.