Persiapan Saat Suami Hendak Berlayar Lama

Cerita Nyonya Pelaut

Sebelum menikah dengan Mister Pelaut, ia telah menyampaikan pada saya bahwa ia akan sering berada di luar rumah, bahkan sangat  jauh dari rumah, karena ia akan menjadi pelaut, ia bertanya pada saya, apakah saya bersedia? and i say “i do”.

Menjadi seorang istri pelaut bisa dibilang susah - susah gampang mama. Gampang jika mama sudah terbiasa ditinggal berlayar seperti saya sejak sebelum menikah hingga saat ini memiliki 2 orang anak. Susahnya, tenang ma… saya akan berbagi tentang persiapan yang perlu kita lakukan supaya tidak terasa susah menjadi istri pelaut. Istri pelaut dilatih menjadi mandiri ma. Karena pemimpin di rumah sedang mencari nafkah jauh di luar sana, maka mau tidak mau, siap tidak siap, istri pelaut akan terbiasa menjadi mandiri. 

1. Lost Contact
Seperti yang mama tahu, saat pelaut sedang berlayar, sering kali yang terlihat hanya hamparan laut luas tanpa terlihat pulau - pulau berpenduduk dengan cakupan sinyal telekomunikasi yang memadai. Biasanya hal ini yang mengakibatkan sering terputusnya komunikasi dengan keluarga di rumah. 

Sebelum suami berangkat berlayar, ia telah menjelaskan pada saya, jika nanti akan sering terputus komunikasi karena tidak ada sinyal di laut, saat lost contact terjadi, saya diminta untuk tetap tenang, tidak panik, dan menunggu kabar darinya. Sekedar informasi, perusahaan tempat pelaut bekerja pasti akan menghubungi keluarga jika ada kabar kurang baik yang mengkhawatirkan. Jadi, don’t worry be happy ma.

2. Decision Maker
Dulu, waktu awal mister pelaut berlayar, saya dihadapkan dengan suatu masalah yang saat itu memaksa saya untuk mengambil keputusan secara cepat. Seperti yang mama tahu, saat pelaut berlayar akan sering lost contact karena kendala jaringan. Maka, saat kendala itu datang di saat saya harus mengambil keputusan cepat, mau tidak mau, saya harus menjadi decision maker. 

Mister pelaut pernah berpesan, jika ia berlayar, maka saya lah yang menjadi decision maker di rumah. Tentunya berat ya ma, biasanya kita para istri selalu menyerahkan pengambilan keputusan pada kepala keluarga, tapi tenang ma, istri pelaut dilatih untuk mengambil keputusan yang tepat saat suami berlayar.

3. Buah Hati Sakit
"Cobaan terberat saat ia jauh adalah 2 anak kompak sakit tanpa dikomando. Mungkin hatinya juga bimbang mendengar kabar 2 penyejuk hatinya sakit. Usah bimbang, tetaplah berlayar demi masa depan anak - anak. Di sini kan tetap menanti, dengan semua semangat yang dititipkan saat berangkat waktu itu. Ya... semangat itu tetap terjaga sampai saat ini, demi mereka, 2 penyejuk hatimu" 
Kita tidak bisa menghindari adakalanya 2 buah hati kompak sakit saat suami berlayar. Hal utama yang saya lakukan adalah tetap tenang, panik malah akan membuat saya kehabisan energy, dan energy saya butuhkan untuk menjaga 2 buah hati yang sedang sakit, walau kadang menghabiskan seluruh energy untuk bergadang demi memonitor kondisi 2 buah hati setiap saat, istri pelaut harus memiliki energy extra untuk urusan satu ini. 

Saya pun sudah menyiapkan beberapa hal seperti obat - obatan untuk kesembuhan buah hati saya, menyiapkan contact person dokter anak kepercayaan keluarga yang setiap saat mudah saya hubungi untuk memonitor kesehatan buah hati mama, dan juga siapkan asupan untuk anak - anak. Jadi ibu dan istri siaga tentunya jadi suatu keharusan bagi setiap mama, begitupun saya sebagai istri pelaut selalu menjadi ibu siaga bagi anak-anak.


3. Engineer Instant
Semenjak suami berlayar, saya terbiasa menjadi engineer instant di rumah, dari memasang mesin cuci baru hadiah dari suami, mengganti lampu yang putus, sampai memasang cctv sendiri di rumah. Tenang ma, saya sudah dapat sedikit pelatihan khusus dari suami untuk menjadi engineer instant ini.

4. Mom Has No Sick Day
Menjadi seorang istri sekaligus ibu dari 2 anak dengan suami pelaut, saya harus pintar - pintar menjaga kesehatan saya, karena jika saya sakit, saya tidak punya partner di rumah untuk bergantian menjaga anak - anak saat saya sakit. 

Biasanya saya menjaga kesehatan saya dengan makan makanan enak dan minum minuman favorite saya hahaha, tentunya tetap dijalur makanan sehat ya ma *kadang. Makanan minuman favorite menjadi mood booster bahkan menjadi penunjang saya agar selalu fit. So, tenang ma, asik kok jadi istri pelaut.

5. Rindu Ini
Tidak dipungkiri, makanan dan minuman favorite tidak selalu sukses menjadi penyemangat saya saat jauh dari suami. Rindu kadang tak terobati dengan sekedar hiburan makanan dan minuman favorite. Kadang istri pelaut perlu pelukan atau genggaman ringan dari suami nun jauh di laut demi booster kilat sebagai penyemangat aktivitas. 

Walau seringkali hanya dapat menahan, seringkali saya alihkan rindu saya pada suami dengan cara menyibukkan diri dengan rutinitas bersama anak - anak di rumah, komunikasi melalui aplikasi chat atau sekedar video call dengan suami, setidaknya ia tahu kalau di rumah ada yang rindu dengannya. Selebihnya, rindunya ditahan ma, tunggu suami pulang. Makanya, punya suami pelaut, berat ma, biar istri pelaut saja, mama ngga akan kuat hihihi…

6. Pregnancy
Saat saya hamil anak pertama dan kedua, saya dan suami telah membuat commitment, bahwa saya akan hamil saat suami mengenyam pendidikan, saat pelaut ingin naik 1 tingkat lebih tinggi, diwajibkan mengikuti diklat kenaikan ijazah sekitar 6 bulan hingga 1 tahun, tergantung diklatnya. 


Cerita Nyonya Pelaut


Jadi saya dan suami sengaja merencanakan kehamilan saat suami turun kapal mengenyam pendidikan lagi. Supaya apa ma? Supaya suami dapat konsentrasi dalam diklatnya sambil dapat mendampingi istrinya saat hamil dan mendampingi istrinya saat melahirkan, karena istri memerlukan perhatian penuh suaminya hamil dan melahirkan. Sambil menyelam minum air kan ma :)

7. Working Mom
Sebagai istri pelaut, saya juga merangkap menjadi working mom, mengapa saya masih bekerja padahal sudah memiliki 2 orang anak dan punya “suami pelaut lho” kata orang. Jawabannya hanya 1, yaitu suami ingin saya tetap menghargai jerih payah orangtua saya yang telah menyekolahkan saya hingga bisa mandiri seperti saat ini. 

Jadi, jika tiba saatnya nanti saya menjadi stay-at-home mom kelak, suami menyerahkan sepenuhnya pada saya. Menjadi istri pelaut merangkap working mom, berjuta rasanya ma. Seringkali saya dihadapkan dengan kondisi pekerjaan di kantor yang sedang padat, stamina diri sedang menurun ditambah 2 buah hati kompak sakit. Sempurna ya ma. 


Tapi kembali lagi, istri pelaut telah mendesign dirinya tahan banting, dan struggle dalam menghadapi hal seperti ini. Saya memilih untuk minta semangat dari suami dari jauh walau hanya melalui chat atau videocall, kata-katanya selalu manjur sebagai penyemangat saya supaya tetap “waras” menghadapi semua ini sendiri di rumah. Dan lagi - lagi, saya bisa melewati keadaan ini dengan baik. Syukurlah….

8. Day Leave
Sebagai working mom saya sangat strict dalam urusan cuti. Hari cuti kerja sengaja saya siapkan jika anak - anak sakit dan butuh saya stay di rumah atau cuti juga saya siapkan untuk menyambut suami pulang berlayar yang kadang hanya pulang 1-2 hari saja. Jadi saya jarang menggunakan hari cuti kerja yang tidak terlalu urgent sifatnya.

9. Loyalty
Menjadi istri pelaut artinya terbiasa dengan keraguan tentang kesetiaan. Jika mama telah membaca point 1 hingga 8 yang telah saya bagikan, pasti mama sependapat dengan saya, jika kesetiaan istri pelaut tak diragukan lagi, karena seperti saya contohnya, yang terlalu sibuk dengan aktivitas serta rutinitas a to z , dan tetap setia menanti hingga suami pulang dari berlayar.

10. I’m Home
Saat mister pelaut pulang dari berlayar, yang kadang hanya 1-2 hari saja, saya menyempatkan diri untuk mempercantik diri, walau sekedar facial atau creambath jika jadwal pulangnya mendadak. Jika rencana pulangnya sudah dijadwalkan, seringkali saya menyiapkan segala kebutuhannya dan merencanakan hal - hal favoritenya ma, supaya saat berangkat berlayar lagi, suami bisa tersenyum lebar teringat moment menyenangkan di rumah. 

Oiya ma, satu hal yang paling penting menurut saya saat suami pulang adalah hindari hal - hal yang memicu pertengkaran kecil maupun besar, karena hal itu akan membekas dihati suami dan terbawa saat berangkat berlayar lagi. Jadi usahakan selalu semangat memberikan yang terbaik untuk suami ya ma.

Artikel ini saya dedikasikan untuk semua istri pelaut di manapun mereka berada, bagi calon istri pelaut yang tetap semangat mempersiapkan diri menjadi istri pelaut, dan bagi semua di luar sana yang selalu menyemangati saya sampai saat ini.


Cerita Nyonya Pelaut

Keep strong istri pelaut dan semangat untuk semua pelaut yang rela jauh dari keluarga demi masa depan keluarga tercinta. We dream in colors borrowed from the sea...

2 komentar

  1. Sungguh luar biasa
    Istri pelaut emang berat
    Tapi ya itu semua demi masa depan anak anaknya.
    Harus semangat dan kuat terus

    BalasHapus
  2. Wow, kebayang beratnya berjauhan dari suami, Mbak. Tapi selalu ada cara buat menjalin komunikasi ya, agar hubungan tetap hangat. Saya teringat adik sepupu saya yang suaminya juga pelaut. Yang penting optimis.

    BalasHapus

Selamat datang! Terima kasih telah berkunjung.

Silakan tulis komentar :)

Cara mengisi komentar::
Pilih NAME/URL lalu isi dengan URL blog. URL Blog, bukan URL postingan. JIka tidak punya blog, kosongkan saja kolom URL, namun jangan lupa isi namanya supaya tidak masuk SPAM. Terima kasih :)

@mamaayuutami