Minggu, 03 Juni 2018

Persiapan Saat Suami Hendak Berlayar Lama

Cerita Nyonya Pelaut

Sebelum menikah dengan Mister Pelaut, ia telah menyampaikan pada saya bahwa ia akan sering berada di luar rumah, bahkan sangat  jauh dari rumah, karena ia akan menjadi pelaut, ia bertanya pada saya, apakah saya bersedia? and i say “i do”.

Menjadi seorang istri pelaut bisa dibilang susah - susah gampang mama. Gampang jika mama sudah terbiasa ditinggal berlayar seperti saya sejak sebelum menikah hingga saat ini memiliki 2 orang anak. Susahnya, tenang ma… saya akan berbagi tentang persiapan yang perlu kita lakukan supaya tidak terasa susah menjadi istri pelaut. Istri pelaut dilatih menjadi mandiri ma. Karena pemimpin di rumah sedang mencari nafkah jauh di luar sana, maka mau tidak mau, siap tidak siap, istri pelaut akan terbiasa menjadi mandiri. 

1. Lost Contact
Seperti yang mama tahu, saat pelaut sedang berlayar, sering kali yang terlihat hanya hamparan laut luas tanpa terlihat pulau - pulau berpenduduk dengan cakupan sinyal telekomunikasi yang memadai. Biasanya hal ini yang mengakibatkan sering terputusnya komunikasi dengan keluarga di rumah. 

Sebelum suami berangkat berlayar, ia telah menjelaskan pada saya, jika nanti akan sering terputus komunikasi karena tidak ada sinyal di laut, saat lost contact terjadi, saya diminta untuk tetap tenang, tidak panik, dan menunggu kabar darinya. Sekedar informasi, perusahaan tempat pelaut bekerja pasti akan menghubungi keluarga jika ada kabar kurang baik yang mengkhawatirkan. Jadi, don’t worry be happy ma.

2. Decision Maker
Dulu, waktu awal mister pelaut berlayar, saya dihadapkan dengan suatu masalah yang saat itu memaksa saya untuk mengambil keputusan secara cepat. Seperti yang mama tahu, saat pelaut berlayar akan sering lost contact karena kendala jaringan. Maka, saat kendala itu datang di saat saya harus mengambil keputusan cepat, mau tidak mau, saya harus menjadi decision maker. 

Mister pelaut pernah berpesan, jika ia berlayar, maka saya lah yang menjadi decision maker di rumah. Tentunya berat ya ma, biasanya kita para istri selalu menyerahkan pengambilan keputusan pada kepala keluarga, tapi tenang ma, istri pelaut dilatih untuk mengambil keputusan yang tepat saat suami berlayar.

3. Buah Hati Sakit
"Cobaan terberat saat ia jauh adalah 2 anak kompak sakit tanpa dikomando. Mungkin hatinya juga bimbang mendengar kabar 2 penyejuk hatinya sakit. Usah bimbang, tetaplah berlayar demi masa depan anak - anak. Di sini kan tetap menanti, dengan semua semangat yang dititipkan saat berangkat waktu itu. Ya... semangat itu tetap terjaga sampai saat ini, demi mereka, 2 penyejuk hatimu" 
Kita tidak bisa menghindari adakalanya 2 buah hati kompak sakit saat suami berlayar. Hal utama yang saya lakukan adalah tetap tenang, panik malah akan membuat saya kehabisan energy, dan energy saya butuhkan untuk menjaga 2 buah hati yang sedang sakit, walau kadang menghabiskan seluruh energy untuk bergadang demi memonitor kondisi 2 buah hati setiap saat, istri pelaut harus memiliki energy extra untuk urusan satu ini. 

Saya pun sudah menyiapkan beberapa hal seperti obat - obatan untuk kesembuhan buah hati saya, menyiapkan contact person dokter anak kepercayaan keluarga yang setiap saat mudah saya hubungi untuk memonitor kesehatan buah hati mama, dan juga siapkan asupan untuk anak - anak. Jadi ibu dan istri siaga tentunya jadi suatu keharusan bagi setiap mama, begitupun saya sebagai istri pelaut selalu menjadi ibu siaga bagi anak-anak.


3. Engineer Instant
Semenjak suami berlayar, saya terbiasa menjadi engineer instant di rumah, dari memasang mesin cuci baru hadiah dari suami, mengganti lampu yang putus, sampai memasang cctv sendiri di rumah. Tenang ma, saya sudah dapat sedikit pelatihan khusus dari suami untuk menjadi engineer instant ini.

4. Mom Has No Sick Day
Menjadi seorang istri sekaligus ibu dari 2 anak dengan suami pelaut, saya harus pintar - pintar menjaga kesehatan saya, karena jika saya sakit, saya tidak punya partner di rumah untuk bergantian menjaga anak - anak saat saya sakit. 

Biasanya saya menjaga kesehatan saya dengan makan makanan enak dan minum minuman favorite saya hahaha, tentunya tetap dijalur makanan sehat ya ma *kadang. Makanan minuman favorite menjadi mood booster bahkan menjadi penunjang saya agar selalu fit. So, tenang ma, asik kok jadi istri pelaut.

5. Rindu Ini
Tidak dipungkiri, makanan dan minuman favorite tidak selalu sukses menjadi penyemangat saya saat jauh dari suami. Rindu kadang tak terobati dengan sekedar hiburan makanan dan minuman favorite. Kadang istri pelaut perlu pelukan atau genggaman ringan dari suami nun jauh di laut demi booster kilat sebagai penyemangat aktivitas. 

Walau seringkali hanya dapat menahan, seringkali saya alihkan rindu saya pada suami dengan cara menyibukkan diri dengan rutinitas bersama anak - anak di rumah, komunikasi melalui aplikasi chat atau sekedar video call dengan suami, setidaknya ia tahu kalau di rumah ada yang rindu dengannya. Selebihnya, rindunya ditahan ma, tunggu suami pulang. Makanya, punya suami pelaut, berat ma, biar istri pelaut saja, mama ngga akan kuat hihihi…

6. Pregnancy
Saat saya hamil anak pertama dan kedua, saya dan suami telah membuat commitment, bahwa saya akan hamil saat suami mengenyam pendidikan, saat pelaut ingin naik 1 tingkat lebih tinggi, diwajibkan mengikuti diklat kenaikan ijazah sekitar 6 bulan hingga 1 tahun, tergantung diklatnya. 


Cerita Nyonya Pelaut


Jadi saya dan suami sengaja merencanakan kehamilan saat suami turun kapal mengenyam pendidikan lagi. Supaya apa ma? Supaya suami dapat konsentrasi dalam diklatnya sambil dapat mendampingi istrinya saat hamil dan mendampingi istrinya saat melahirkan, karena istri memerlukan perhatian penuh suaminya hamil dan melahirkan. Sambil menyelam minum air kan ma :)

7. Working Mom
Sebagai istri pelaut, saya juga merangkap menjadi working mom, mengapa saya masih bekerja padahal sudah memiliki 2 orang anak dan punya “suami pelaut lho” kata orang. Jawabannya hanya 1, yaitu suami ingin saya tetap menghargai jerih payah orangtua saya yang telah menyekolahkan saya hingga bisa mandiri seperti saat ini. 

Jadi, jika tiba saatnya nanti saya menjadi stay-at-home mom kelak, suami menyerahkan sepenuhnya pada saya. Menjadi istri pelaut merangkap working mom, berjuta rasanya ma. Seringkali saya dihadapkan dengan kondisi pekerjaan di kantor yang sedang padat, stamina diri sedang menurun ditambah 2 buah hati kompak sakit. Sempurna ya ma. 


Tapi kembali lagi, istri pelaut telah mendesign dirinya tahan banting, dan struggle dalam menghadapi hal seperti ini. Saya memilih untuk minta semangat dari suami dari jauh walau hanya melalui chat atau videocall, kata-katanya selalu manjur sebagai penyemangat saya supaya tetap “waras” menghadapi semua ini sendiri di rumah. Dan lagi - lagi, saya bisa melewati keadaan ini dengan baik. Syukurlah….

8. Day Leave
Sebagai working mom saya sangat strict dalam urusan cuti. Hari cuti kerja sengaja saya siapkan jika anak - anak sakit dan butuh saya stay di rumah atau cuti juga saya siapkan untuk menyambut suami pulang berlayar yang kadang hanya pulang 1-2 hari saya. Jadi saya jarang menggunakan hari cuti kerja yang tidak terlalu urgent sifatnya.

9. Loyalty
Menjadi istri pelaut artinya terbiasa dengan keraguan tentang kesetiaan. Jika mama telah membaca point 1 hingga 8 yang telah saya bagikan, pasti mama sependapat dengan saya, jika kesetiaan istri pelaut tak diragukan lagi, karena seperti saya contohnya, yang terlalu sibuk dengan aktivitas serta rutinitas a to z , dan tetap setia menanti hingga suami pulang dari berlayar.

10. I’m Home
Saat mister pelaut pulang dari berlayar, yang kadang hanya 1-2 hari saja, saya menyempatkan diri untuk mempercantik diri, walau sekedar facial atau creambath jika jadwal pulangnya mendadak. Jika rencana pulangnya sudah dijadwalkan, seringkali saya menyiapkan segala kebutuhannya dan merencanakan hal - hal favoritenya ma, supaya saat berangkat berlayar lagi, suami bisa tersenyum lebar teringat moment menyenangkan di rumah. 

Oiya ma, satu hal yang paling penting menurut saya saat suami pulang adalah hindari hal - hal yang memicu pertengkaran kecil maupun besar, karena hal itu akan membekas dihati suami dan terbawa saat berangkat berlayar lagi. Jadi usahakan selalu semangat memberikan yang terbaik untuk suami ya ma.

Artikel ini saya dedikasikan untuk semua istri pelaut di manapun mereka berada, bagi calon istri pelaut yang tetap semangat mempersiapkan diri menjadi istri pelaut, dan bagi semua di luar sana yang selalu menyemangati saya sampai saat ini.


Cerita Nyonya Pelaut

Keep strong istri pelaut dan semangat untuk semua pelaut yang rela jauh dari keluarga demi masa depan keluarga tercinta. We dream in colors borrowed from the sea...

31 komentar:

  1. Selalu salut dengan istri -istri pelaut yang mandiri karena paman saya juga berlayar. Dan saya tahu rasanya jauh dari suami.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah... paman berlayar juga ya mama Nunung, jauh di mata tapi dekat di hati dengan suami kan mama Nunung^^

      Hapus
  2. Kagok mau komen apa,, saluutt dah

    BalasHapus
  3. duh hebat sih mbak ini, krn sdh baisa ya ditinggal suami, lah aku kalau suami dinas luar kota suka gak bisa tdr, denger suara sedikit kebangun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Akan terbiasa kok mama Tira kalau berlangsung lama, semangat^^

      Hapus
  4. wah salut sama istri pelaut, beberapa saya kenal juga teman2 yang menikah dgn pria turki dan kebetulan suami2nya pelaut, mereka benar2 mandiri, adaftasi tinggal d negara suami sedang suami berlayar urus apapun sendiri disini yang berkaitan sama dokumen2 atau urusan rumah sakit. kunjungan pertama saya, salam kenal ya nyonya pelaut:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal juga mama Rahma, Terima kasih mama Rahma untuk kunjungannya, dan selamat menjalankan ibadah puasa^^

      Hapus
  5. huah mama Ayu seteronh bangets😍😍 semoga sehat2 selalu aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sesetrong dirimu kan mama Herva, sehat selalu juga mama Herva :*

      Hapus
  6. Nggak sanggup ngebayangin, aku yang sering ditinggal kerja sore dan malem aja kadang masih ngeluh, gimana kalau istri pelaut ya, semangat semua istri pelaut dan yang ditinggal suami kerja :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat selalu mama Julia, saling menyemangat ya kita :)

      Hapus
  7. Hebat ih perjuangan mama ayu :)

    btw penasaran karena poin 10. Kalau gitu, apakah pertengkaran (kecil/besar) sama sekali nggak ada mama ayu? ngambek2an gitu? *maafkan kekepoankuuh*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aw... senangnya ada mama Ndie, pertengkaran kecil misalnya, istrinya sok - sok ngambek karena suami lupa matikan tv karena ketiduran. yang besar misalnya drama cemburu karena suatu hal. Seringkali suami yang pulang dari dinas lama pengen ditreatment istrinya dengan lembut mama ndie, jadi kalo bisa ngambek - ngambek manjanya di kontrol, jangan all out hahaha...

      Hapus
  8. Hihi aku pernah pacaran sama pelaut Mam. Emang komunikasi itu susah bgt..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya Mama Tami, punya suami pelaut, berat ma, biar istri pelaut saja, mama ngga akan kuat hihihi…

      Hapus
  9. 4th pacaran, 5th pernikahan sama Pelaut. Rasanya kaya permen nano2. Manis asem asin. Ramai rasanya. Hhhahahhaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat selalu Mama Wullan...

      Hapus
  10. Lulusan AIP juga mba suaminya? Saya punya sepupu yg juga pelaut, dan om yg skr setelah pensiun jadi pengajar di AIP. Dari mereka saya srg tau jd nya gmn pas mereka lg berlayar, istri nya yg hrs jd wanita tangguh :D. Sejujurnya yaaa, kalo aku yg diposisi itu, blm tentu kuat sih. Lah LDR jarak deket aceh-Penang aja gagal :( . Butuh kepercayaan sangat kuat utk bisa begitu sih. Makanya aku salut ama semua istri2 yg sering ditinggal lama dengan pasangannya. Apalagi yg di laut begini, susah komunikasinya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua istri punya pertarungannya sendiri - sendiri mama Fanny, mau suami berlayar atau LDM ngga jauh beda, gimana kita sebagai istri untuk selalu strong. semangat ya mama Fanny^^

      Hapus
  11. Saluut bgt Mbakk!! Semoga bahagia selalu bersama keluarga ya Mbak. Menikah itu macam2 ya Mbak ujiannnya.. 😊😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju mama Mustika, ujian dengan berjuta rasanya hohohoh.... Amin... makasih doanya mama Mustika^^

      Hapus
  12. Suamiku perwira karir, pelaut yg sekolah dr ATTD thn depan baru mau kuliah lg ANTIII. Masalah ditinggal2 udah biasa. Kalau dia kelamaan di darat malah pening kepalaku krn duit tak ada. 2bulan cuti kusuruh berlayar lagi kecuali dia cuti untuk kuliah. Hahahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Curhatan istri pelaut ya mama ahahahha

      Hapus
  13. Mba ayu suaminya lulusan ATTIV BP3IP Sunter bukan ya. Kok foto wisudanya hampir mirip di gedung wkt suamiku jg wisuda. Jgn2 satu leting nih suami2 kita cuma beda jurusan, suamiku ANTIV thn 2013 lalu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes betul Mama Wullan, Mister Pelaut lulusan ATTIV BP3IP Sunter, iya satu almamater ya, cuma bedanya suamiku teknik^^

      Hapus
  14. Yang paling lama tiap berlayar biasanya berapa bulan maiko? Selain kangen, jadi decision maker itu yang berat, kadang qt cuma butuh partner sharing buat bisa ambil keputusan kan ya..tp klo sendirian, ga boleh galau lama2 ya.. semangat terus maikoo πŸ’–πŸ’–πŸ’–

    BalasHapus
    Balasan
    1. Paling lama hampir 1 tahun berlayar mami, betul banget, partner sharing dibutuhkan banget supaya tetep "waras" dan bisa ambil keputusan dengan tepat. Bersyukut selain suami yang sangat support penuh, ada sudara dan teman baik seperti mami gavin salah satunya, yang jadi tempat sharing πŸ’™

      Hapus
  15. Hebat bagt momy, bisa sabar ditiggal2 lama pulangnya sebentar. Aku sendiri masih ogoan Sama misua minta anter ini itu. Bener2 mandiri.. Semoga samawa ya keluarganya 😍😘

    BalasHapus
  16. Wow strong banget sih mbak ayu!
    “Absence makes the heart grow fonder”

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Fachrie, ihiy... asikk ya jauh dimata dekat di hati hahaha

      Hapus

Selamat datang! Terima kasih telah berkunjung.

Silakan tulis komentar :)

Cara mengisi komentar::
Pilih NAME/URL lalu isi dengan URL blog. 9 URL Blog, bukan URL postingan. JIka tidak punya blog, kosongkan saya kolom URL, namun jangan lupa isi namanya. Terima kasih :)

@mamaayuutami