Bisakah Ibu Adopsi Menyusui Bayinya? | ASI Talk With Maiko

September 17, 2018

menyusui-anak-adopsi

Terima kasih ya Allah...
 Setelah hampir 6 tahun penantianku, 
akhirnya aku memiliki buah hati mungil yang aku dambakan. 

Tapi... 
Apakah aku bisa menyusui dan memberikan hak ASI pada bayiku...
Karena aku tidak melahirkannya...

Nak, perkenalkan nama mama adalah Yusra, seorang ibu rumah tangga yang mendambakan buah hati untuk mama cintai.  Bagi mama,  anak adalah anugerah dan segalanya. Seperti yang engkau tahu, setelah hampir 6 tahun penantian mama, terima kasih pada Allah, akhirnya mama memiliki buah hati yang mama dambakan. Seorang bayi mungil yang lahir secara normal berjenis kelamin laki - laki, dengan bobot 2,1 Kg dan kami beri nama Daniel. Anugerah tak terhingga yang Allah berikan pada keluarga kecil kami.

Dalam penantian mama,  ada rasa khawatir dengan kondisi engkau saat itu nak, dan memikirkan masa depanmu.  Apakah mama bisa membesarkanmu dengan penuh amanah, Apakah mama bisa menyusui dan memberikan hak ASI padamu hingga batas menyusui, Karena mama tidak melahirkanmu.

Ya Nak, Daniel adalah buah hati mama yang tidak lahir dari rahim mama. Bayi yang sejak lahir membuat mama jatuh cinta dan ingin selalu memeluk erat tubuh mungilnya. Namun saat mama sedang berbahagia memilikimu, muncul gejolak dalam diri mama tentang segala pertanyaan yang selalu berulang.  Mana mungkin mama bisa memenuhi kebutuhan ASImu, mana mungkin mama bisa menyusuimu, bahkan mamapun tidak mengandung dan tidak melahirkanmu.

Tenang nak, tak ada sedikitpun keraguan mama dan selalu meyakinkan diri mama sendiri, pasti bisa, pasti ada cara mama untuk memberikan ASI padamu, bahkan mama yakin mama bisa menyusuimu. Semakin kencang pertanyaan - pertanyaan dibenak mama, semakin pantang mama untuk menyerah saat mencari jalan keluar atas keinginan mama itu.

Susu Pertamaku

Alhamdulillah Daniel lahir secara normal pada bulan Agustus 2017, saat kumandang adzan maghrib dengan bobot tubuh 2,1 kg.  Karena proses melahirkan normal maka ia diizinkan pulang esok harinya, dan akupun menjemput Daniel. Benar, Daniel adalah anak adopsiku, anak yang tidak lahir dari rahimku. Aku semangat untuk memberinya asupan, namun ibu yang mengandung dan melahirkan Daniel belum dapat mengeluarkan ASI, sehingga bidan memberikan susu formula untuk memenuhi asupan kebutuhan Daniel. 


Sejak Daniel lahir, untuk memenuhi kebutuhan asupannya,  kami memberi susu formula yang disiapkan oleh bidan. Aku sempat khawatir dengan kondisi Daniel, karena saat pemeriksaan berikutnya ke bidan, ternyata Daniel mengalami penurunan berat badan 0,1 kg,  dari berat lahir 2,1 kg menjadi 2 kg, mungkin bagi ibu yang lain penurunan berat tersebut tidak signifikan, tapi bagiku itu adalah kegagalanku pada fase pertama tumbuh kembang Daniel.
  
Tiba – tiba, mamaku bercerita bahwa anak tetangga yang berkecukupan itu diberi susu formula dengan merk yang lebih mahal, makanya babynya gemuk, pintar dan sehat. Mendengar informasi itu aku segera membelinya, berapapun harganya pasti aku beli, karena bagi aku saat itu yang paling penting adalah Daniel dapat tumbuh dengan sebaik-baiknya.


Aku membeli susu sekaligus membeli dotnya, media menyusui yang saat itu hanya itu terpikir olehku. Meskipun memberi susu formula kepada Daniel dengan dot, sejak awal mamaku selalu berpesan untuk tetap menyusui Daniel sejak lahir walau tidak ada ASI yang keluar dari payudaraku. Beliau pun terus menyemangati aku bahwa ASI akan keluar  jika terus menyusui dan akan terjalin hubungan batin antara ibu dan anak, supaya saat Daniel besar kelak, akan selalu ingat aku mamanya, karena mama ingin kamu menjadi mahramku nak.

Meski aku tidak melahirkan Daniel tapi aku selalu melakukan yang terbaik, sama seperti yang ibu lain lakukan, aku juga mencoba melakukan inisiasi menyusu dini. Daniel termasuk bayi yang pintar, ia dapat melakukannya dengan baik, dan sampai saat ini aku masih teringat moment itu.



Disentri

Mengisi waktuku 24 jam bersama Daniel adalah bukti kesungguhanku untuk dapat menerima amanah memiliki anak. Aku yang sudah menamatkan jenjang S2 dan sebelumnya telah bekerja sebagai Chief Accounting di sebuah perusahaan Jepang di bilangan Sudirman. Memutuskan untuk resign supaya bisa total merawat Daniel dan berharap tidak tertinggal setiap moment bersama Daniel.



Pada tanggal 20 September 2017 aku mencoba untuk mengganti susu formula Daniel dengan harga yang sedikit lebih murah. Selama Daniel minum  susu formula tersebut, tidak ada masalah yang cukup berarti, namun pada tanggal 9 Oktober 2017, Daniel mengalami masalah pada buang air besarnya karena berwarna hitam dan bebentuk sangat cair.  

Aku didampingi suami langsung membawa ke bidan dan menjelaskan kalau aku mengganti susu formula. Lalu bidan menginformasikan bahwa Daniel bukan terkena diare tapi disentri, hal ini dapat terjadi karena susu formula dan kurang higienisnya penyajian susu dengan media botol dot, beliau juga menambahkan agar mencuci botol susu dengan bersih serta disterilkan sebelum diberikan kepada Daniel. Setelah penjelasan bidan, tanpa berpikir lama, aku langsung mengganti susu formula merk semula  dan membeli pembersih botol susu khusus  yang bisa membersihkan sisa lemak susu yang ada di botol, karena jika dicuci seperti biasa masih tertinggal lemak susunya.



Alhamdulillah setelah kejadian itu, setiap bulan berat badan Daniel naik 1 kg. Namun, aku tetap berharap Allah mengizinkan aku untuk dapat menyusui Daniel. Karena ASI adalah asupan terbaik untuk bayi.



Pijat Laktasi

Keyakinan aku bahwa wanita yang tidak mengandung dan melahirkan, namun dapat mengeluarkan ASI,  membawaku pada berbagai cara yang rela aku tempuh termasuk  program Pijat Laktasi. Informasi pijat laktasi ini aku dapatkan dari group ASI.  Aku dipertemukan dengan Ibu yang sangat telaten dan mahir dalam pijat laktasi orang-orang memanggilnya Mama Tuti, rumahnya di Utan Kayu – Jakarta Timur.



Pada tanggal 13 September 2017 aku memulai pijat laktasi ke Mama Tuti. Menyadari bahwa aku mulai dari nol besar yaitu kondisi tidak mengandung dan melahirkan pastinya proses menghasilkan ASI akan berbeda dengan Ibu yang mengandung dan melahirkan, aku berpikir akan membutuhkan pemijatan yang lebih lama dari ibu lainnya. 



Saat bertemu dengannya, aku tidak bercerita secara terus terang bahwa aku adalah ibu adopsi, aku takut mama Tuti akan hopeless sebelum menerima aku karena mengetahui aku tidak mengandung, tidak melahirkan tapi menginginkan sebuah keajaiban dapat menyusui bayi adopsi.



Aku mengikuti pemijatannya dengan teratur, beliau screening aku dan menjelaskan bahwa kondisi puting aku masih tertutup dan aku masih kurang cairan.  Mama Tuti dapat mengetahui dari sentuhan tangannya di bagian-bagian tertentu. Ketika pemijatan berlangsung kami mengisinya dengan bercerita, tentunya banyak hal yang ditanyakan mama Tuti dengan bagaimana kondisi saat aku melahirkan dan aku tinggal dimana. 

Tidak ada sedikitpun pertanyaan yang aku jawab dengan kebohongan, semua aku jawab dengan sebenar-benarnya bagaimana kondisi Daniel lahir. Jangan pernah awali dengan kebohongan karena kita sedang menjalani proses yang sangat mulia yaitu menyusui.



Dengan kondisi mama Tuti tidak mengetahui bahwa aku adalah Ibu adopsi membuat aku nyaman karena aku berpikir, akal tidak akan pernah membatasi segala kemungkinan yang terjadi.  Mama Tuti menyampaikan jika aku memiliki bakal ASInya dan dapat mengeluarkan ASI meski memang butuh proses. 

Mendengar bahwa aku akan bisa keluar ASI membuat aku meneteskan air mata karena artinya ada sebuah harapan yang pasti dari ahlinya, bukan hanya sebuah harapan yang tanpa usaha. Aku bilang Mama Tuti,  aku siap menjalani pijat teratur jika beliau minta aku datang setiap hari, aku siap insyaa Allah.



Aku membuat jadwal untuk pertemuan selanjutnya. Proses pemijatan laktasi ini mempersiapkan kondisi payudara kita untuk dapat menyusui, Mama Tuti memijat bagian yang menjadi jalan produksi ASI dan menunjukkan padaku dibagian mana yang perlu terus distimulasi pemijatan untuk mengaktifkan payudara,  sehingga dapat mengeluarkan ASI. 

Selain pemijatan, beliau meminta aku merendam payudara dengan semangkuk air hangat dengan tujuannya membuka sumbatan lubang di puting dan melancarkan aliran darah, serta minum air putih sekitar 3 liter dan perbanyak minum kuah sayur bening.  Aku semakin sering menyusui Daniel walau belum keluar ASI. Pada puting setiap satu jam sebelum mandi dibaluri minyak kelapa untuk membersihkan kotoran pada lubang puting. 

Ada satu kalimat yang aku ingat, Mama bilang ada juga kok yang pijat laktasi ibu adopsi dan bisa mengeluarkan ASI apalagi kamu, pasti bisa keluar ASI. Ketika mendengar itu aku berkata dalam hati Mama Tuti maafkan aku karena tidak menjelaskan bahwa yang sedang kau pijat ini pun adalah ibu adopsi. Pada saatnya nanti aku akan memberitahu atau mungkin engkau yang akan tahu dulu.


Pertemuan kedua pada tanggal 15 September 2017 lubang-lubang pada puting sudah terbuka dan  itu sudah membuatku bahagia. Mama Tuti menunjukkan lubang-lubangnya dan beliau nanti dari lubang inilah keluar ASI. Dan aku langsung membayangkan ASI keluar dari lubang ini, Masyaa Allah.

Pertemuan ketiga pada tanggal 21 September 2017 ASI belum keluar ASI tapi kondisi payudara sudah siap untuk bisa mengeluarkan ASI kata Mama Tuti. Tetap semangat karena baru 8 hari proses pemijatan, dan ini baru pertemuan ketiga jangan menyimpulkan bahwa aku gagal karena bisa jadi keberhasilan itu akan ada di pertemuan keempat. 

Kalau pertemuan ketiga kita sudah menyerah maka kita tidak akan mendapati keberhasilan. Bismillah jalani karena Allah Yang Maha Menciptakan dari tiada menjadi ada. Jika Allah menghendaki  jadi maka jadilah.

Induksi Laktasi
Selain aku menjalani proses pijat laktasi, aku terus mencari informasi lainnya tentang cara menghasilkan ASI dari Ibu Adopsi dan menginformasikan kepada orang tertentu tentang kondisi aku dan meminta informasi jika ada orang yang telah berhasil menghasilkan ASI dari Ibu Adopsi. 

Setelah aku selesai pijat di mama tuti aku mendapat pesan kabar dari guru aku, yang isinya ada Ibu adopsi yang berhasil menyusui dan beliau memberikan nomornya untuk dapat aku cari informasinya. Beliau adalah Ibu Dini yang kini anak adopsinya berusia sekitar 1,5 tahun.

Aku sangat senang ternyata terbukti  ibu adopsi dapat menyusui. Aku segera berkomunikasi dengan penuh harapan dan mata berbinar-binar. Beliau menceritakan bagaimana prosesnya dan hal apa saja yang perlu dilakukan dan dipersiapkan. Aku diminta datang ke Rumah Sakit Ibu dan Anak Kemang Medical Center (KMC) dan bertemu dengan dr. Asti Praborini. Kenapa aku memilih bertemu dr. Asti? karena dr. Asti memiliki tim yang dinamakan Praborini Lactation Team yang sudah teruji selalu menyemangati ibu menyusui mengASIhi hingga 2 tahun.

Sore itu aku langsung menghubungi KMC untuk membuat janji. Karena padatnya jadwal dr. Asti, aku mendapat informasi dari bagian admission untuk diminta untuk datang pagi sekali agar mendapatkan quota.

Selama menunggu jadwal pertemuan dengan dr. Asti, aku terus mencari informasi dari ibu Dina. Beliau bilang “nanti saat kamu konsultasi dengannya langsung dilakukan rawat inap dua hari untuk proses induksi laktasi dan kamu akan menggunakan SNS untuk membantu menyusui. 

SNS adalah singkatan dari Supplemental Nursing System, Supplemental Nursing System pertama kali di desain untuk membantu para Ibu yang mengadopsi anak untuk bisa memberikan ASI kepada bayi adopsi mereka melalui payudara untuk merangsang hormon yang bisa meningkatkan produksi ASI. Dan aku segera membeli secara online.

Setelah SNS datang, aku mencoba mencari informasi melalui youtube karena merasa asing dan agak bingung cara penggunaannya.

menyusui-anak-adopsi

Tanggal 25 September 2017 aku datang bersama suami ke KMC dan  aku sudah siap untuk rawat inap. Persiapan sudah aku lakukan sejak subuh, aku membawa perlengkapan sebagai berikut :
- Satu paket SNS Medela
- Susu Formula
- Dot
- Termos air panas
- Pakaian ganti 2 potong
- Perlengkapan mandi
- Perlengkapan shalat
- Al-Qur’an
- Perlengkapan Bayi
- Baju Ganti 4 potong
- Diapers untuk 2 hari
- Kain selendang/ kain jarik (persiapan untuk skin to skin)
- Selimut bayi
- Selimut dewasa (karena aku tidak kuat dingin)
- Makanan dan minuman

Cukup banyak perlengkapan yang aku bawa, tapi sebenarnya di KMC disediakan semua kebutuhan yang diperlukan, tapi aku memilih untuk menyiapkan semuanya dari rumah.

Tiba saat yang mendebarkan bagi aku, yaitu bertemu dr. Asti. Daniel diminta untuk dititipkan pada suster. Aku menceritakan tujuan kedatangan aku bertemu dr. Asti, bahwa aku mendapat informasi dari Ibu Dini dengan tujuan mengeluarkan ASI.  Dr. Asti menanyakan apakah aku datang bersama suami ? karena untuk menjalani program induksi laktasi, seorang istri harus didampingi suami.

Dr. Asti mulai dengan proses screening untuk mengetahui tujuan mengeluarkan ASI. Aku diminta menceritakan secara jelas latar belakang Daniel sampai Daniel bisa bersama aku. Dr. Asti meminta aku untuk menunjukkan surat nikah karena aku tidak diberitahu harus membawa surat nikah maka aku kebingungan bagaimana cara menunjukkan kepada beliau bahwa kami pasangan suami istri yang sah. 

Dengan nada tegas dr. Asti mengatakan bahwa seharusnya dari awal bagian pendaftaran menyampaikan untuk membawa surat nikah asli. Aku katakan bahwa tidak ada yang memberitahu kami, dalam benak aku terlintas scan buku nikah yang kami gunakan di Rumah Sakit sebelum untuk keperluan IVF (bayi tabung). Alhamdulillah dr. Asti tidak keberatan dengan scan buku nikah yang kami tunjukkan.

Awalnya aku khawatir bahwa dr. Asti akan menolak kami untuk segera mendapat perawatan. Karena dr. Asti menyampaikan jika tidak dapat  sembarang menerima pasien, dr. Asti tidak menerima pasien dengan status yang tidak jelas dan tidak dapat dibuktikan dengan buku nikah. 

dr. Asti  menambahkan bahwa mudah untuk dapat mengeluarkan ASI, dengan catatan sang ibu harus bersungguh-sungguh untuk terus menyusui Daniel selama 2 tahun. Beliau meminta komitmen aku untuk terus memeriksakan diri ke dr. Asti selama minimal 2 tahun untuk memantau perkembangan ASI dan anak, tapi jika memang terkendala dana dr. Asti bisa memaklumi.

Ketika kami sedang diskusi di dalam, terdengar suara tangisan Daniel di luar yang sepertinya Daniel haus dan sudah tidak nyaman lagi bersama suster. Karena kondisinya memang Daniel tidak boleh disusui ketika ingin bertemu dr. Asti, tujuannya supaya bayi akan merasa lapar dan haus dan nantinya akan disusui di depan dr. Asti.

Mendengar suara tangisan Daniel yang khas yaitu suara yang menggelegar heboh maka dr. Asti meminta suster memberikan Daniel kepada aku untuk digendong ibunya. Saat aku memeluk Daniel, dari tangisan yang begitu menggelegar, seketika Daniel terdiam dan tenang. Lalu aku meminta izin untuk menyusui Daniel karena aku rasa (Daniel sangat haus) Daniel akan lebih tenang dan nyaman. 

Melihat interaksi aku dan Daniel membuat dr. Asti kaget  dan Dr. Asti meminta suster memanggilkan dokter Dery team laktasinya. Dr. Asti menunjukkan kepada dr. Dery bahwa aku adalah ibu adopsi dan belum mulai treatment tapi Daniel nampak mau menyusu dengan baik.

Beliau sampai berucap Masyaa Allah, takjub karena saat Daniel menangis dan aku peluk, ia langsung tenang dan terdiam. Saat suami mengisi form persetujuan treatment, dr. Asti menyampaikan kalau Daniel beruntung mendapat ibu seperti aku, karena baru saja ada anak kandung yang datang bersama ibunya tapi belum mau menyusui. Setelah selesai mengisi form, dr. Asti menanyakan mengenai SNS, lalu aku sampaikan bahwa aku sudah punya.

Dr. Asti mengajarkan aku bagaimana cara memasang SNS dan menempelkannya pada payudara aku. Proses pemasangan pun berjalan lancar, Daniel menyusu dengan lahapnya meskipun selang SNS sudah masuk ke dalam mulutnya. Dr. Asti menyarankan untuk rawat inap, dan Aku mengiyakan dan spontan berucap “Bismillahirrahmanirrahim”, ucapan yang menguatkan aku untuk menjalani proses selanjutnya.

Rawat Inap
Aku diberikan resep obat yaitu Yasmin (obat KB) dan domperidone oleh dr. Asti , aku harus meminum obat KB Yasmin 21 hari dan diinformasikan bahwa selama minum KB Yasmin tidak akan haid, jika sudah 21 hari selanjutnya akan haid seperti biasa. Pada hari ke 21, baru akan keluar ASI, senang rasanya mendengar bahwa ASI pasti akan keluar  21 hari kedepan.

Kami pun menjalani rawat inap mulai pukul 11.00 WIB. Ini adalah pertama kalinya aku dirawat inap, deg-degkan rasanya membayangkan hal-hal yang menyeramkan seperti disuntik terus menerus atau di infus dengan lingkungan berbau obat, makanan yang kurang nyaman dan hal lainnya. Tapi aku mencoba untuk mengendalikan diri sendiri, membangun pikiran-pikiran positif dan hal-hal menyenangkan. Aku berkata pada suami, anggap saja aku habis melahirkan,  karena posisi kita saat itu berada di Rumah Sakit.

Dan nyata adanya, membawa aku pada perasaan yang kuat bahwa aku adalah seorang ibu, ibu dari anak yang akan aku besarkan dengan cinta dan kasih sayang. Aku mulai jatuh hati dengan KMC, malam pertama kali aku di rawat inap dan ini adalah tempat pertama kali aku merasa anakku dilahirkan.  
Selepas makan, treatment dilanjutkan dengan meminum obat yang sudah diresepkan oleh dr. Asti yaitu obat KB Yasmin dan Domperidone.
 
menyusui-anak-adopsi

Menurut aku,  makanan di KMC enak, tempatnya nyaman dan bersih, serta pelayanannya juga baik. Dokternya pun ramah dan profesional.

 Aku mengenakan baju pasien dengan  BRA khusus untuk ibu menyusui yang memiliki lubang ditengahnya, bisa dibuka tutup yang telah aku siapkan dari rumah. Aku ngga sabar menunggu kehadiran dokter yang menangani aku. Kunjungan dokter selepas Maghrib tiba, dr. Aini namanya, dokter laktasi yang konon adalah dokter favorite Sabai Morscheck mama Bjorka,  mengunjungiku untuk memastikan bahwa aku tetap menggunakan SNS dengan baik dan memastikan tidak ada  kendala dengan SNS.

Berlanjut dengan motivasi menyusui yang beliau berikan, dr. Aini bertanya apakah SNS berisi sufor atau ASIP donor, lalu aku jawab sufor karena aku tidak berani menerima ASIP Donor,  khawatir sifat ibu donor menurun ke anak. Beliau berkata ASI adalah makanan terbaik untuk bayi dan semahal apapun susu formula bayi, jauh lebih bagus ASI. Dan tidak ada yang dapat menandinginya, karena ASI pemberian dari Allah SWT dan sudah sepasang, bayi dengan ASI nya. 

dr. Aini sangat mengedukasi aku, tentang ASI yang harus diperjuangkan sampai masa penyapihan 2 tahun kelak. dr. Aini menawarkan aku untuk menerima ASIP donor dan  mencoba mencarikan dari Group Whats App Aku Cinta ASI (ACA) yang berisi pasien KMC. Menurut beliau, lebih baik memberi ASIP donor daripada sufor,  karena daya tahan tubuh anak akan lebih kuat. Jadi anak nantinya tidak mudah sakit (aahh..  edukasi ini sudah merasuk ke hatiku).

Selanjutnya dokter lain pun datang, pelajaran pertama yang aku dapatkan adalah skin to skin. Alhamdulillah aku sudah menyiapkan kain panjang, caranya posisi kita terlentang dan bayi diletakkan diatas dada kita dengan kondisi telungkup menghadap kita, lalu kain panjang dililitkan di badan kita, supaya terikat kuat antara bayi dan ibu seperti kangguru. Supaya posisinya aman dan nyaman, aku menggunakan selendang panjang. dokter meminta aku melakukan skin to skin hingga esok hari sampai bertemu dengan dr. Asti lagi.

Proses menempelnya tubuh Daniel ke atas dadaku membuat aku merasa seperti Ibu yang baru saja melahirkan, yang sedang melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini).  Daniel membuka mulut mencari di mana letak puting untuk menyusu. Tak terasa air mata membasahi pipiku, aku terharu dan bahagia, merasakan apa itu IMD, dan aku sama sekali tidak keberatan harus membawa Daniel yang menempel dipelukanku dengan posisi seperti kanguru saat itu. Malam tiba, aku tertidur dengan kondisi Daniel ada dalam dekapanku. Perlahan aku rasakan irama detak jantungnya seiring dengan detak jantungku, aku membayangkan detak jantung ini ada dalam perutku rahimku. Setiap geraknya adalah nafasku, makananku adalah makanannya. 

menyusui-anak-adopsi
 

“Masyaa Allah, semoga Allah menganugerahkan janin ada dalam rahimku ini. Terima kasih Ya Allah yang telah memberikan pengajaran untukku sebagai seorang Ibu. Terima kasih mengizinkan aku untuk merasakan dan mengambil hikmah dari takdir yang telah Engkau gariskan”
Dokter meminta aku  melakukan skin to skin dengan baik dan pastikan dr. Asti melihat kita melakukan skin to skin dengan sungguh – sungguh, karena dr. Asti akan kecewa jika apa yang disampaikannya tidak diikuti,  jika proses induksi laktasi berjalan dengan baik, maka hasilnya  akan sesuai dengan yang diharapkan. Hal itu aku ingat baik-baik karena aku tidak mau dr. Asti yang bersedia menolongku merasa kecewa lantaran aku lalai dari aturannya.

Dokter yang mengajarkan skin to skin bertanya padaku tentang apakah anakku tongue tie atau lip tie, lalu aku jawab tidak tahu dan belum diperiksa. Dokter bilang mungkin besok akan diperiksa dr. Asti,  jika memang tongue tie atau lip tie maka akan dilakukan insisi.

Malam pun berlalu dengan begitu cepatnya, rasanya ingin berlama-lama dengan anakku yang menempel langsung pada kulitku. Saat nyenyak tidur sambil mendekap Daniel, aku terbangun karena ternyata dr. Asti dan team telah datang. Dr. Asti senang melihat aku masih melakukan skin to skin, katanya jangan seperti pasien lainnya yang tidak mengerjakan apa yang diperintahkan tapi maunya berhasil menyusui.

Kemudian dr. Asti melakukan pemeriksaan pada lidah Daniel, ternyata ia tongue tie sekaligus lip tie dan dr. Asti memberi tahu akan melakukan insisi. Ternyata insisi itu dilakukan di depan kita sendiri, aku pikir Daniel akan dibawa ke ruang operasi, aku sudah membayangkan hal-hal berat. Alhamdulillah insisi berjalan dengan baik meski aku sendiri tegang dan sampai menangis karena aku tidak kuat melihat darah dan melihat Daniel dilakukan insisi. dr. Asti menenangkan aku untuk relax supaya anak bisa langsung menyusu.

Selanjutnya aku dikunjungi kembali oleh dr. Aini, beliau mengajarkan aku cara pasteurisasi atau mensterilkan ASIP donor beku, dan cara menjaga nutrisi yang ada dalam ASIP tersebut. Dalam kunjungan itu, beliau juga memastikan bahwa aku telah menguasai pemasangan, pembersihan dan pemakaian SNS. dr. Aini menyampaikan bahwa aku dan Daniel masih akan dirawat inap satu hari lagi, karena kondisi anak yang baru insisi, khawatir anak rewel dan ibunya belum siap menanganinya. Lalu aku menjawab insyaa Allah aku bisa menangani anak aku jika memang rewel nantinya, aku yakin bisa melakukan dengan baik hal-hal yang telah diajarkan oleh dokter – dokter . 
Kemudian dr. Asti meminta dr. Aini untuk mengujinya mengulangi cara pasteurisasi dan cara sterilisasi botol SNS. Dan aku mampu melakukannya semua dengan baik dan aku diizinkan pulang hari itu juga. Jadi aku di rawat inap 1 x 24 jam dengan kondisi aku dan bayi aku yang cukup baik. Dr. Aini bilang aku jangan kaget jika ASI nya tidak banyak karena ASI Ibu Adopsi tidaklah sebanyak Ibu yang mengandung dan melahirkan. Sedikit berat mendengar pernyataan itu tapi aku tetap berdoa, berusaha dan optimis ASIku akan banyak seperti ibu kandung lainnya, Aamiin.

Waktu pun berjalan, aku mengikuti semua aturan dan prosedur dari  dokter dengan baik,  diiringi dengan pijat laktasi yang aku lakukan di Mama Tuti. Aku terus meminum obat KB Yasmin dan domperidone sesuai aturan dokter . Saran dari Mama Tuti pijat laktasi yaitu merendam air hangat payudara, mengolesinya dengan minyak kelapa, makan yang banyak untuk ibu dan bayi, minum kuah sayur, minum jus bangun-bangun sehari 3x sekali minum 500 ml, selalu shalat Tahajut memohon kepada Allah tetap aku lakukan.

Selasa, 3 Oktober 2017,  aku memiliki perasaan bahwa payudaraku akan mengeluarkan  ASI, lalu aku pun melihat di BRA aku terdapat rembesan air dan kuning yang sudah mengering. Aku penasaran untuk mencoba memerahnya. Allahu Akbar, Allah Maha Besar, malam itu begitu takjubnya aku atas kebesaran Allah. Aku wanita yang tidak mengandung, tidak melahirkan dapat keluar ASI dan dapat menyusui. Masyaa Allah jika memang Engkau berkehendak apapun dapat terjadi atas izinMU. Airmataku tak terbendung lagi, aku langsung sujud syukur dengan rasa haru dan memeluk suami. Aku langsung menghubungi mamaku untuk segera datang melihat keajaiban Allah. Alhamdulilah atas izin Allah dalam waktu 7 hari saja aku sudah dapat keluar ASI padahal prediksi dokter butuh waktu 21 hari. Inilah Kun Fa Ya Kun Allah. Allah akan berikan kepada yang Dia kehendaki.

Aku berharap rasa syukur ini, dapat dirasakan oleh ibu adopsi yang lain, dan menjadi penyemangat bagi ibu adopsi yang ingin merasakan nikmatnya menyusui buah hatinya, ya ma, bayi adopsi kita. 

Dear Moms, berikut tadi cerita nyata inspiratif yang telah dibagi oleh mama Yusra dan bayinya Daniel kepada saya. Sstt... mama Yusra bercerita khusus hanya di kolom ASI Talk With Maiko blog milik nyonya pelaut ini lho, suatu kehormatan dan kebanggaan bagi saya, karena bisa secara langsung mendengar pengalaman inspiratif beliau pada saya.   

Tetap percaya ya moms, bahwa semua yang didasari oleh ketulusan dan keyakinan, akan membuahkan hasil. Semangat moms dan sampai ketemu di artikel ASI Talk With Maiko berikutnya...


You Might Also Like

13 comments

  1. Terharu membacanya. Telaten banget dan sangat memperjuangkan bisa menyusui sendiri ya walaupun bayinya adopsi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mom, sangking pengen menyusui bayinya, perjuangan seorang ibu

      Hapus
  2. Tak ada yang tak mungkin ya, Mba. Takjub dan terharu, campur aduk rasanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mom, akupun yang mendengar langsung aja terharu banget

      Hapus
  3. takjub ya, ilmu kedokteran semakin hebat ya dan juga karena kausa Allah tentunya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mom, kuasa Allah melalui ilmu kedokteran bikin merinding

      Hapus
  4. Aku baru tahu ttg ini :o. Selama ini hanya berfikir sepertinya ga mubgkin ibu yg tidak melahirkan tp bisa memberikan asi. Bener2 mukjizat Allah ya mba :). Motivasi utk para ibu adopsi

    BalasHapus
  5. Mama Ayu aku nangis bacanya duh gusti Alloh ga ada yang ga mungkin jika kita yakin dan mau berusaha..masyaAlloh pengen peluk mama Yusra dan Daniel, dan Daniel kamu beruntung sekali nak punya ibu adopsi yang duh speeclesh aku meweeeekkkk huhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam peluk dari Mama Yusra dan Daniel Mama Herva, akupun merinding saat Mama Yusra cerita pengalaman mengASIhinya.

      Hapus
  6. ya allah terharu aku bacanya....
    mengingatkan aku betapa bersyukur dan bangganya saya bisa menyusui anak :'(
    perjuangan nya luar biasa, bener mewek aku

    BalasHapus
  7. Ya Allah terharu bacanya,sy pun punya anak adopsi,lg berusaha utk bisa menyusui,tp kendalanya sulit sekali menemui konselor laktasinya,berusaha terus dan sabar mudah2han bisa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat mom Nur, bisa follow Instagram @akucintaasi.id , itu adalah komunitas ibu menyusui dan ada info klinik laktasinya yang menangani induksi menyusui bayi adopsi. Semoga bermanfaat ya mom nur^^

      Hapus
    2. Trima kasih

      Hapus

Selamat datang! Terima kasih telah berkunjung.

Silakan tulis komentar :)

Cara mengisi komentar::
Pilih NAME/URL lalu isi dengan URL blog. URL Blog, bukan URL postingan. JIka tidak punya blog, kosongkan saja kolom URL, namun jangan lupa isi namanya supaya tidak masuk SPAM. Terima kasih :)

@mamaayuutami