Kenapa Kamu Rela Menyusui? | ASI Talk With Maiko

April 11, 2019


Kenapa kamu rela menyusui? Pertanyaan itu dilontarkan suami saya saat kami sedang ngobrol santai.
Saya sedang memotong-motong bayam,  suami menemani sambil duduk di samping saya, dan Anak-anakpun sedang tidur sehingga kami bisa santai sejenak seperti ini.

Seketika saya sisihkan bayam di tangan dan menghela nafas, Saya tidak menyangka pertanyaan ini keluar dari mulut suami saya.

Ya, suami saya adalah ayah ASI, sosok yang mendukung saya menjadi ibu menyusui, rela menyuapi saya saat tidak sempat makan karena kelelahan menyusui saat itu,  bahkan kakinya ringan melangkah mengantarkan saya kontrol ke klinik laktasi.

Kenapa kamu mau bersusah susah menyusui anak2 dek? Kenapa kamu tidak memompa dan lantas memberikan ASImu pada anak2 via dot? Toh juga tidak masalah. Dan kenapa juga kamu tidak memberikan anak2 sufor, toh anak-anak sufor juga sehat?

Pertanyaan bertubi-tubi kembali dilemparkan suami pada saya.

Tidak terasa air mata saya membasahi pipi,seperti mengulang kembali video proses menyusui kedua anak saya yang sangat tidak mudah.
pixabay.com

Mulai dari kesulitan menyusu, tongue tie & lip tie, nipple pore sampai mastitis. Alhamdulillah semua sudah terlewati.

Hun, aku menyusui dengan keras kepala semata-mata hanya ingin menjalankan perintah Allah kepadaku. Sehingga kelak jika aku dihisab, ada 1 kewajibanku yang bisa kupertanggung jawabkan. Demikian jawabku mantab kepada suamiku.

Dan meluncurlah berbagai penjelasan dariku. Menyusui ini ibadah yang hanya sebentar, hanya 2 tahun. Sangat sebentar dibanding dengan ibadah lain yang dilakukan seumur hidup.
Aku tidak ingin kehilangan ibadah ini.

Kenapa pula aku tidak ingin memberikan dot pada anak-anakku? Kembali lagi bahwa aku ingin menghindari segala halangan yang menyebabkan anak2 tidak mau menyusu padaku. Jika anak-anak tidak mau menyusu padaku, maka hilanglah kesempatanku untuk beribadah pada Rabb ku.

Kenapa pula aku tidak memberikan anak-anak sufor? Aku bukanlah seseorang yang meng-haramkan sufor. Boleh jika ada indikasi medis atau hal tertentu, tapi tentunya dosisnya harus sesuai keputusan petugas medis setelah segala daya upaya dilakukan.

Namun jika  tidak ada indikasi apapun, mengapa harus memakai sufor? Relakah aku menukar pahala di setiap tetes air susuku dengan sufor? Tentu tidak!

Masalah sehat atau sakit, kuserahkan semua pada Sang Pencipta. Tugasku hanya menjaga amanah dari-Nya dan memberikan yang terbaik dari apa yang telah diberikan Allah kepadaku, yaitu Air Susu Ibu.

-DS Prabawaningsih-

Tulisan ini dikirim oleh salah satu ibu menyusui komunitas Aku Cinta ASI(ACA) untuk kolom ASI Talk With Maiko

You Might Also Like

2 comments

  1. alamak baper bacanya apalagi suaminya mau dna real suapin istrinya yang lagi kelelakhan dan ga sempat makan :((

    tapi aku juga berikeras mam buat menysui klo di rumah anakku ya nempel kayak Koala nemplok buat nyusuin tiada henti :p

    BalasHapus
  2. Menyusui itu salah satu kegiatan yang aku rindukan kala punya bayi dulu. Melihat si kecil dalam pangkuan, memandang mata kita dengan kerjapan bahagia, mulutnya yang sesekali berhenti lalu tersenyum, gerakan kakinya, dan gerakan jari tangannya di dadaku, semua itu seperti sebuah video dengan sejuta cerita.

    BalasHapus

Selamat datang! Terima kasih telah berkunjung.

Silakan tulis komentar :)

Cara mengisi komentar::
Pilih NAME/URL lalu isi dengan URL blog. URL Blog, bukan URL postingan. JIka tidak punya blog, kosongkan saja kolom URL, namun jangan lupa isi namanya supaya tidak masuk SPAM. Terima kasih :)

@mamaayuutami