Pengalaman menyusui Kembali Dengan Relaktasi | ASI Talk With Maiko

April 06, 2019

pengalaman  menyusui kembali dengan relaktasi


Menyusui adalah anugerah yang diberikan oleh Allah SWT pada setiap ibu untuk bayinya dengan penuh keyakinan. Dan tidak sedikit ibu hebat di luar sana yang berjuang demi memberikan ASI sebagai hak bayinya hingga 2 tahun.

Dalam ‘ASI Talk With Maiko’ kali ini, saya ingin berbagi cerita tentang satu lagi ibu hebat yang dengan tekad kuat dapat menyusui kembali bayinya yaitu mom Reka Dewi Farid. Mom Reka yang pernah bekerja di Kementerian Luar Negeri ini, berhasil kembali menyusui bayinya setelah berjuang dengan relaktasi rawat inap karena bayi bingung puting dan rela bersusah payah membawa ASIP saat perjalanan dinas dari New York ke rumah Indonesia demi memberikan hak bayinya. Merinding saya mendengar ceritanya.

Mari mom, kita ikuti cerita mom Reka yang inspiratif berikut :

“Our body gives what’s best for our baby” adalah mantra yang saya ucapkan berulang-ulang untuk menguatkan usaha saya dalam melakukan exclusive breastfeeding (menyusui langsung secara eksklusif), seberat apapun tantangannya. Mantra tersebut mengandung 2 makna: (1) ASI adalah yang terbaik untuk bayi kita, sehingga buang jauh pemikiran untuk ‘menyerah’ dengan mudahnya memberikan sufor saat mengalami kendala dalam menyusui; dan (2) Allah SWT memerintahkan Ibu untuk menyusui bayinya hingga 2 tahun, tentunya dengan memberikan tubuh Ibu ‘kemampuan untuk menyusui. Mantra tersebut telah membuat saya berhasil menyusui si sulung, Aisyafarra, hingga 3 tahun dan semoga akan terus menyemangati saya dalam menyusui si bungsu, Zayd yang pernah ada Tongue-Tie dan sempat bingung puting.

Zayd, Tongue-Tie, Frenotomy

Berbeda dengan kakaknya,  Zayd (7 bulan) sejak lahir mengalami kesulitan dalam menyusu. Saat saya cek memang ada indikasi Tongue-Tie (TT), yang kemudian dikonfirmasi oleh dr. Ayi Dilla, SPA. Saya mengenal tentang TT dan frenotomy sejak 7 tahun yang lalu saat hamil anak pertama, sehingga saya menyetujui saran dokter untuk dilakukan tindakan frenotomy (insisi) dengan tujuan agar Zayd bisa menyusu langsung.

Frenotomy dilaksanakan saat Zayd berusia 4 hari. Karena tidak bisa dilakukan di rumah sakit tempat saya bersalin, maka dengan berjalan tertatih menahan rasa sakit pasca operasi caesar, saya bawa Zayd untuk diinsisi. Setelah tindakan frenotomy, saya kontrol ke dokter kembali 3 hari kemudian. Dan diharuskan melakukan senam lidah setidaknya 5 kali dalam sehari selama 3 minggu. Ternyata setelah proses frenotomy tidak semudah yang saya bayangkan, Zayd di rumah tidak langsung bisa menyusu. Karena tidak tega melihat Zayd belum berhasil menyusu hingga usianya 7 hari, saya mengambil jalan pintas dengan memberikan ASIP via dot. Jauh dari harapan saya, kemampuan Zayd menyusu tidak kunjung membaik, malah ada penolakan saat disodorkan payudara. Confirmed, Zayd jadi bingung puting.

Kesulitan Zayd dalam menyusu langsung bertambah parah saat Zayd harus dirawat secara intensif di NICU karena kadar bilirubin tinggi. Zayd harus dipisahkan sementara dari saya, tanpa senam lidah, dan harus diberikan ASIP via media lain. Sepulangnya dari perawatan NICU, Zayd semakin tidak mengenali payudara saya, dan saya merasa harus segera menemukan jalan keluar untuk mengatasinya.

Relaktasi Rawat Inap Bingung Puting 

pengalaman  menyusui kembali dengan relaktasi

Atas rekomendasi dr. Ayi Dilla, Zayd menjalani rawat inap bingung puting (ranap bingput) untuk relaktasi di usia 12 hari di RS Permata Bekasi. Metode relaktasi yang digunakan dalam ranap bingput ini yaitu:
  1. Mengoptimalkan bonding antara ibu-bayi dengan 24 jam skin-to-skin-contact; Ibu hanya memakai pakaian dalam dan bayi hanya memakai diapers lalu gendong kangguru selama perawatan.
  2. Memperbaiki pelekatan, menemukan style menyusui yg tepat/cocok dan memastikan senam lidah bayi (pasca insisi) dilakukan;
  3. Menggunakan alat bantu berupa supplement nursing system (SNS) dan obat-obatan bagi bayi (jika diperlukan). Obat CTM dengan dosis tepat berfungsi untuk menenangkan bayi sehingga kegiatan melatih pelekatan dengan benar dapat lebih efektif.
Semua kegiatan di atas dilakukan dalam pengawasan dokter/konselor laktasi yang melakukan visit 3 kali dalam sehari. Dalam setiap kali visit, dilakukan monitoring dan evaluasi terhadap perkembangan bayi dalam menyusu. Selain itu, para dokter/konselor laktasi juga tidak segan mengajak ngobrol dan melakukan pendekatan psikologis terhadap ibu.

Pada hari pertama dan kedua Zayd masih rewel dan menolak. Lalu pada hari ketiga Zayd menunjukkan kemajuan dalam kemampuannya untuk menyusu payudara kiri. Awalnya hanya dua-tiga hisapan, lalu berhenti dan menangis. Pada hari ketiga ini pula pemberian CTM dihentikan karena sudah tidak ada penolakan. Pemakaian SNS pun juga dihentikan karena kebetulan aliran ASI saya deras dan mencukupi. Selanjutnya, pada hari keempat zayd mulai bisa menyusu pada payudara kanan, setelah diketahui bahwa football style adalah yang paling cocok dan nyaman bagi Zayd (saat itu). Akhirnya di hari berikutnya DSA mengijinkan kami pulang setelah melihat kemajuan Zayd dalam menyusu dan DSA merasa yakin kami bisa meneruskan ritual skin-to-skin contact maupun senam lidah secara mandiri di rumah.

Keberhasilan Ranap Bingput dan Tantangan

Sekitar 3 hari pasca ranap bingput saya kembali ke RS untuk kontrol. Zayd menunjukkan peningkatan berat badan (BB) yang memuaskan dan kadar bilirubin juga normal, sebagai hasil dari keberhasilan menyusu. Menurut catatan, 7 hari pasca ranap bingput BB Zayd naik sebanyak 500 gram dan terus mengalami peningkatan di bulan-bulan berikutnya. Saya termasuk salah satu dari 95% pasien ranap bingput yang berhasil direct breastfeeding (dbf) setelah menjalani perawatan.

Setelah melalui “badai” bingput, saya bergabung dalam komunitas pendukung ASI (ACA), komunitas TT & LT, dan sejenisnya untuk sekedar sharing pengalaman dan saling menyemangati para ibu yang mengalami kesulitan menyusui. Dari berbagai pertanyaan dan komunikasi tentang ranap bingput, dapat saya rangkum beberapa tantangan yang seringkali dihadapi oleh calon pasien maupun pasien ranap bingput, diantaranya:

1.      Terdengar Tidak Logis 

pengalaman  menyusui kembali dengan relaktasi

Pertanyaan utama yang saya terima adalah apakah metode-metode dalam ranap bingput sungguh efektif dan pasti berhasil. Pertanyaan ini selalu muncul karena sulitnya memahami korelasi antara skin-to-skin contact, teori pelekatan dan metode dalam ranap bingput dengan keberhasilan menyusui langsung, sehingga ranap bingput terkesan tidak logis. Menurut persepsi saya, breastfeeding is indeed beyond logic. Seperti halnya sulit menjelaskan bonding/ikatan batin yang terbangun antara Ibu dan anak karena menyusu langsung, maka diperlukan faith/keyakinan dan confidence di atas logic dalam menjalankan ranap bingput ini agar berhasil.

Suami saya juga pada awalnya menilai ranap bingput tidak logis.  Kemudian saya sampaikan bahwa yang saya butuhkan darinya adalah support/dukungan, kecuali suami punya cara lain untuk mengatasi bingput. Saya sudah melalui proses kehamilan dan melahirkan, dan saya tidak akan menyerah dengan tidak melakukan apa-apa melihat anak saya mengalami kesulitan dalam menyusu. Dukung saya selama menjalani ranap bingput, dan jika setelah itu Zayd tetap tidak bisa menyusu, maka saya akan menerima kenyataan harus exclusive pumping, itulah kesepakatan yang saya buat dengan suami.

2.      Kendala Biaya

Pertanyaan selanjutnya adalah tentang biaya yang dikeluarkan selama ranap bingput. Terkait hal ini banyak yang menyayangkan ranap bingput belum bisa ditanggung oleh BPJS maupun asuransi swasta.

Ada juga orangtua yang kebetulan tidak memiliki masalah biaya tapi setelah dihitung-hitung merasa sayang mengeluarkan sejumlah uang untuk ranap bingput. Bisa saya sampaikan bahwa biayanya jauh lebih murah bila dibandingkan dengan keharusan membeli sufor secara terus menerus, karena anak tidak bisa menyusu langsung. Belum lagi kerugian non-material jika bonding Ibu-anak tidak bisa optimal dan rasa berdosa karena tidak menjalankan perintah Allah SWT dan agama untuk menyusui hingga 2 tahun.

3.      Tekanan dari Orang Terdekat
Tekanan bisa datang dari suami, keluarga dan mertua ketika mempertanyakan apakah harus sampai rawat inap kalau sekedar skin-to-skin contact saja. Bagi saya pribadi, ranap itu penting agar Ibu bisa fokus dengan upaya mengatasi bingput ini. Dengan ranap skin-to-skin contact dapat dilakukan seharian tanpa intervensi, Ibu juga tidak harus memikirkan hal-hal lain di rumah (bebas drama) dan bisa punya waktu eksklusif Ibu-bayi saja.

Dari pengalaman, saya dapat menyimpulkan bahwa masa terberat adalah di hari pertama dan kedua, karena saat itulah kesabaran dan keyakinan kita diuji. Seorang ibu pasti merasa stress jika bayi masih terus menangis pada saat berusaha disusui, dan saat progress ranap bingput belum kelihatan, sehingga mulai mempertanyakan kembali efektifitas ranap bingput. 

Faith and Persistence adalah dua hal yang menguatkan saya saat itu. Faith: I believe in myself, in my body, that I can breastfeed my baby. Persistence: I will finish what I’ve started and will not give up, not now.

Saya bersyukur memutuskan menjalani ranap bingput atau biasa dengan sebutan relaktasi, sehingga bisa berhasil menyusui langsung sampai saat ini. Sebagai ibu, saya meyakini Zayd berhak mendapat ASI hingga 2 tahun sebagaimana dijamin dalam Al Quran. Saya juga yakin Zayd berhak mendapatkan usaha optimal dari orangtuanya demi keberhasilan menyusui, diantaranya dengan frenotomy dan relaktasi ranap bingput ini.


pengalaman  menyusui kembali dengan relaktasi

Secara singkat, saya mendefinisikan relaktasi ranap bingput sebagai usaha optimal para orangtua yang ingin bayinya berhasil (atau kembali) menyusu langsung dari payudara Ibu. Jadi, jangan mengaku usaha sampai mentok kalau belum sampai ranap bingput. Adapun usaha sampai mentok yang bernama relaktasi ranap bingput ini harus dijalankan dengan tuntas alias baru pulang setelah berhasil, tidak setengah-setengah. Masa menyusui di 2 tahun pertama kehidupan anak kita tidak akan bisa terulang kembali, pastikan kita melakukan hal yang benar untuk anak kita.

Demikian cerita relaktasi mom Reka yang pastinya dapat menjadi inspirasi breastfeeding mom, dan menguatkan tekad untuk memperjuangkan menyusui demi bayinya. Terus berjuang mom demi yang terbaik untuk buah hati kita. Salam mengASIhi...

You Might Also Like

13 comments

  1. Ternyata ada perawatan bingung puting. Informasinya membantu sekali mbak. Terima kasih banyak.

    BalasHapus
  2. Wah..aku baru tau mba ada ranap bingung puting, pengalaman liat temen yang kedua anaknya bingung puting semuanya dan akhirnya pakai dot untuk minum susu.. baru tau ternyata di RS. Permata bekasi ada fasilitas ranap bingput padahal saya tinggal di bekasi juga loh..makasih banyak informasinya ya mba

    BalasHapus
  3. Wah mba, aku merinding bacanya. Teringat waktu dulu perjuanganku awal-awal menyusui anak, dimana aku sering mendapat tekanan dari orangtuaku sendiri untuk kasih anakku sufor karena dia sering nangis.

    Oia saya sepakat, memang kunci utama untuk relaktasi itu adalah membangun bonding dan cari posisi menyusu yang pas. Karena saya juga pernah ngalamin hal yang sama, tapi anak saya nggak terlalu parah bingput nya.

    Terima kasih sharing nya, mba

    BalasHapus
  4. Makasi sharing nya mba, baru tau kalau ada yg namanya rawat inap relatasi.. Semoga kita semua tetap semangat memberikan hak Asi anak2 sampe 2 tahun yaa.. aku juga lg berjuang, Alhamdulillah anakku tinggal 5 bln lagi lulus S4 Asi 😁

    BalasHapus
  5. Makasih sharingnya mba, suatu perjuangan yang luar biasa dari seorang ibu, plus dukungan dari suami juga membuat semuanya bisa terlaksana dengan lancar

    BalasHapus
  6. Saya baru tau nih ada kendala menyusui yang disebut "Bingung Puting".
    Berat sekali perjuangan seorang ibu untuk mengASIhi anaknya yaa.

    BalasHapus
  7. Mbak ini informasinya sangat bermanfaat banget buat aku yg belum menikah. Nanti kalau udah punya anak jd ga panik lagi kalau tentang menyusui. Dan aku baru tau lho klau ada masalah "bingung puting". Hehehe

    BalasHapus
  8. Wah aku baru tau nih ttg TT, fretonomy, bingung puting sampai rawat inap bingung puting. Perjuangan ibu daam membesarkan anak mashaAllah bgt ya mba

    BalasHapus
  9. Masya Allah ini hal baru bagiku, ada ya rawat inap gara2 bingubg puting, beneran yang dibutuhkan saat itu nagi ibu adalab dukungan ya mba

    BalasHapus
  10. Waaa aku baru tau kalau plus dukungan dari suami juga membuat semuanya bisa terlaksana dengan lancar apalagi tentang ASI ini yang penting banget

    BalasHapus
  11. Aduh adek gembil. Kamu lucu sekalii hihihi. Mba tentang mengasihi aku menyerahhhh, sakitnya nipple blister ngga bisa diungkapkan dengan kata. Bikin trauma. Tapi bangga sama mba yg bisa berjuang hihihihi. Semoga kita semua sehat dan bahagia yaaa. Amen.

    BalasHapus
  12. Wah ternyata ada rawat inap untuk bingput ya mbaaak.... Dulu Gayatri juga sempat bingung puting, namun terlambat terdeteksi karena dia laten. Jadi nggak nolak nenen, tapi ku rasakan nggak bisa minum dengan kuat atau sampai kosong gitu.... Makasi banyak infonya ya Mbak....

    BalasHapus
  13. Ceritanya sungguh inspiratif Mba. Meski aku pun sama berpikir apa iya ada rawat inap bingput gitu? Ternyata ada ya.....menyusui memang harus diusahakan ya.

    BalasHapus

Selamat datang! Terima kasih telah berkunjung.

Silakan tulis komentar :)

Cara mengisi komentar::
Pilih NAME/URL lalu isi dengan URL blog. URL Blog, bukan URL postingan. JIka tidak punya blog, kosongkan saja kolom URL, namun jangan lupa isi namanya supaya tidak masuk SPAM. Terima kasih :)

@mamaayuutami