Pengalaman Terkena Rubella Saat Hamil

Juli 25, 2019

pengalaman-terkena-rubella-saat-hamil

Hi moms, saya ingin bercerita tentang pengalaman saya terkena rubella saat hamil si sulung, yang sampai saat ini masih menjadi pengalaman tak terlupakan, mungkin entah sampai kapan.

Setelah keguguran saat saya hamil pertama kali, sebenarnya juga menyisakan cerita sedih karena harus kehilangan janin yang saya kandung. Namun kemudian pada awal tahun 2011, Allah memberi kesempatan kembali pada saya hamil si sulung.

Awal kehamilan si sulung, tidak terlalu banyak masalah yang berarti, karena saya dan suami belajar dari pengalaman saat keguguran waktu lalu.

Tapi ujian kami ternyata tidak hanya berhenti saat keguguran waktu itu. Kami mendapat ujian lainnya yang mungkin jauh lebih berat menurut kami.

Tepatnya di akhir trimester pertama kehamilan, saya tiba - tiba demam tinggi,  lutut lemas, sakit dan tidak dapat menopang tubuh saya, padahal menurut saya, saat itu berat badan saya masih normal, belum nampak bertambah karena hamil. Kaki berjalan pincang terasa ngilu dan sakit bila dipaksa berjalan. Ibu saya sempat memberitahu saya kalau badan ngilu biasanya mulai di trimester akhir. 

Ngilu sudah tidak tertahankan, saya memutuskan segera ke Kemang Medical Care (KMC) karena saya selalu kontrol kehamilan dengan dr. Diah Sartika Sari, SpOG. Namun saat itu saya langsung menuju ke UGD karena saya demam tinggi dan tidak kuat menunggu jadwal praktek dokter Diah, setelah diobservasi, dokter jaga menyatakan saya baik-baik saja, hal biasa jika ibu hamil sering merasa lelah, kemudian saya diizinkan pulang.

Namun tiba-tiba dokter jaga minta saya untuk tidak pulang dulu, karena saat saya akan pulang saya bilang ada bercak merah di tangan saya, curiga ada ciri-ciri kondisi yang kurang baik pada saya. Dokter jaga memeriksa saya kembali untuk memastikan dan melihat  sebanyak apa bercak merah pada tangan saya, lalu dokter memeriksa punggung dan akhirnya dokter memutuskan saya harus opname malam itu juga.

pengalaman-terkena-rubella-saat-hamil

Saya diminta langsung cek darah, supaya dokter jaga yakin kalau diagnosa beliau salah, dan ternyata diagnosa beliau benar. Saat hasil lab keluar, saya terkena virus rubella. Saya sedikit bingung dengan apa itu virus rubella, karena dulu saya memang tidak seaktif sekarang, dalam hal mencari informasi. Kemudian dokter jaga menjelaskan, bahwa virus rubella atau sejenis campak bernama campak jerman tidak berbahaya terkena anak - anak karena hanya seperti campak biasa, namun berbahaya jika terkena ibu hamil. Dokter jaga tidak menjelaskan lebih detil tentang bahaya virus rubella, mungkin tidak ingin saya cemas, tapi kemudian saya harus rawat inap saat itu juga.

Bercak merah semakin banyak si sekujur tubuh saya, rasa penasaran semakin tinggi, saya coba mencari informasi melalui internet, apa itu virus rubella, dan apa bahayanya jika ibu hamil terkena virus tersebut.

Setelah menemukan di internet, akhirnya saya tahu kalau virus rubella adalah virus yang dahsyat dampaknya bila terkena ibu hamil. Rubella adalah virus sejenis campak dengan nama lain campak jerman yang fatal menyerang darah menuju janin dan bisa berakibat tidak baik saat bayi lahir, seperti bayi terlahir dengan indera yang tidak normal atau kondisi tubuh yang tidak sempurna. Membaca informasi tersebut,  kondisi saya langsung drop tak hentinya menangis, sangat shock dan down. Sempat meratap cobaan saya yang bertubi - tubi, dari keguguran hingga hamil dengan virus rubella.

Saya mendapat perawatan inap di KMC sekitar 5 hari. Karena agak sulit memberi obat-obatan pada ibu hamil, saat saya dirawat di KMC, saya hanya mendapatkan infus dan neurobion untuk menyegarkan tubuh saya yang lemas karena ngilu, bercak merah dan bengkak di sekujur tubuh, serta hanya sanmol sebagai pain killer terendah untuk ibu hamil.

Di hari pertama rawat inap, saya duduk dikursi roda menuju ruang praktek dokter obsgyn diah untuk pemeriksaan, beliau memulai pertemuan sambil bilang, mari kita observasi bersama ya ma, seraya membacakan hasil lab saya dan menyampaikan juga kalau saya terkena virus rubella, setelah itu saya langsung bertanya "harus digugurkan ya dok?" dengan lirih sambil berurai air mata, tanda menyerah karena khawatir janin tidak akan berkembang. "Jangaaaaan ma, astagfirullah mama Ayu, buang jauh-jauh kata-kata itu" kata dokter Diah. Dan tangis sayapun semakin keras karena saya merasa bersalah.

Menurut dokter Diah, janin saya masih bisa diselamatkan dan dapat berkembang dengan baik, beliau menambahkan karena janin saya termasuk bermasalah, jadi saya dirujuk ke dr. Azen Salim, SpOG di daerah pondok indah, obsgyn yang menangani pasien dengan masalah kehamilan untuk diminta second opinion.

Setelah diperbolehkan pulang, saya langsung menuju tempat praktek pribadi dokter Azen, antriannya cukup panjang, dan karena beliau juga praktek di RS umum, jadi saya diminta untuk membuat janji melalui telepon.  Saat kontrol dengan dokter Azen, saya suka dengan cara beliau menjelaskan dan menenangkan pasiennya, sama seperti dokter diah, kemudian saya diperiksa menggunakan USG doppler. USG tersebut dapat memunculkan gambar aliran darah di tubuh janin. Dokter Azen menyampaikan bahwa janin saya itu baik-baik saja, namun beliau menambahkan kalau janin memang terlihat lebih kecil dari janin kebanyakan.

Sejak didiagnosa terkena virus rubella, setiap bulan saya harus kontrol dengan dua obsgyn sekaligus, dokter Diah dan dokter Azen, bagi saya itu jalan yang terbaik demi janin saya. Sesak sekali rasanya mendengar penjelasan dokter Azen  tentang perkembangan janin yang ada di USG doppler setiap kontrol bulanan.

Walau dokter Azen mencoba menenangkan saya dengan observasinya, tapi setiap hari dan setiap saat, saya terus berdoa untuk keselamatan janin saya. Tidak ada waktu terlewat tanpa doa moms, hanya usaha dan doa yang saya lakukan sejak diagnosa awal terkena rubella, hingga saat melahirkan.

Di bulan kelima kehamilan, saya kembali rawat inap selama seminggu di KMC, karena ada flek akibat saya terlalu lelah dan stress memikirkan kondisi janin saya. Saya sempat drop kembali saat dokter penyakit dalam menyampaikan, bahwa ada kemungkinan bayi saya nantinya terlahir dengan kondisi tidak dapat mendengar. Suami saya hanya menggenggam tangan menguatkan saya saat air mata tak hentinya membasahi wajah saya.

Virus rubella akan tidur lelap di darah ibu, kata dokter penyakit dalam penjelasannya. Dan suatu saat bisa bangun kembali saat ibu hamil selanjutnya. Makanya hal ini yang membuat saya trauma ketika akan hamil si bungsu. Karena virus rubella  tidak akan hilang dalam tubuh kita.

Baca juga >>  Bersalin Di RS Mitra Keluarga Depok

Proses melahirkan pun tiba, ketuban pecah padat week 38, seraya menunggu proses pembukaan lengkap, saya tak berhenti mengatakan pada diri sendiri, kalau saya tidak perduli bila nyawa saya menjadi taruhannya saat melahirkan, saya tidak perduli sesakit apa prosesnya melahirkan, saya hanya minta pada Allah untuk sempurnakan bayi saya yang lahir ini. Itu yang terngiang di kepala saya selama proses melahirkan sambil terus istighfar.

Bayi mungil pun lahir, saya cepat-cepat memanggil ibu saya untuk ikut suami menghitung jari tangan, kaki, memeriksa telinga dan seluruh badan si sulung dan alhamdulillah lengkap tanpa kurang suatu apapun. Bayi kami lahir dengan berat 2,75kg. Setelah diobservasi, dokter menyampaikan  bahwa bayi kami sehat. Suami dan ibu saya langsung sujud syukur penuh haru, tangis bahagia menyelimuti ruang bersalin, "anak kita sehat ma" kata suami terlihat bahagia menggendong si sulung.

Saya ingin sedikit berbagi beberapa hal yang perlu dilakukan dan diperhatikan jika moms berencana melakukan program hamil atau bagi moms yang sedang hamil :

Sebelum Hamil :
 - Sebelum memutuskan untuk hamil, sebaiknya periksakan diri dengan pemeriksaan TORCH di klinik Laboratorium.
- Dari pemeriksaan TORCH akan terlihat hasilnya, dan dapat dikonsultasikan dengan dokter kandungan.
- Jika hasilnya negatif, disarankan untuk imunisasi sebagai pencegahan dengan vaksin MMR ( Measles, Mumps, Rubella), atau vaksin MR dari pemerintah.
- Jika terdeteksi positif , dapat dilakukan pengobatan sebelum mulai program hamil.

Sedang hamil :
- Jaga kondisi tubuh dengan makanan yang bergizi, dan mengutamakan sayuran dan buah-buahan, agar imun ibu hamil yang sering menurun dapat tercover dengan asupan yang sehat.
- Hindari tempat keramaian seperti mall dan tempat keramaian lainnya. Imun ibu hamil yang rendah, sangat mudah terserang bakteri atau virus yang tersebar melalui lingkungan sekitar.
- Disarankan untuk rutin kontrol kehamilan minimal 1 bulan sekali, untuk monitoring perkembangan janin.
- Segera datang ke Rumah Sakit jika ada tanda-tanda demam tinggi disertai lutut ngilu dan bercak merah.
- Ikut serta dalam komunitas Rubella untuk lebih dalam mengetahui cara pencegahan dan penanggulangan virus rubella.

Saya bersyukur, si sulung anak kami,  sehat dan tumbuh dengan baik seperti anak-anak seusianya.

Saya sangat beruntung, Allah hanya memberi saya ujian saat hamil saja. Entah apa jadinya kalau saya diberikan ujian lebih berat jika bayi saya terlahir tidak sempurna. Pasti saya tidak akan sebahagia sekarang.

Saya berterima kasih dan bersyukur mendapat rumah sakit, klinik serta dokter-dokter hebat yang menangani saya saat itu, tanpa beliau-beliau mungkin jalan ceritanya akan berbeda.

www.mamaayuutami.com
Sepupu (baju putih) & Si Sulung (baju hitam)
Tidak terasa, sekarang si sulung sudah mulai masuk SD, semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan untukmu ya nak. Mama sayang kakak.

Dear Moms, dengan saya berbagi pengalaman terkena virus rubella saat hamil ini, semoga bisa menjadi sedikit pencerahan bagi moms yang akan mengikuti program hamil maupun ibu yang sedang hamil.

Semangat terus ya moms, dan jaga kesehatan...

You Might Also Like

34 comments

  1. Alhamdulillah anaknya sehat selalu ya mba. Saya pengen program lagi, dan waktu itu disaranin buat tes torch juga ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Lis, alhamdulillah dan insya Allah sehat terus, aamiin. Iya mbak Lis, sebaiknya tes torch dulu supaya lebih tenang saat hamil

      Hapus
  2. Mbak, aku ikut deg degan banget baca ceritanya, alhamdulillah ikut senang cerita ini berakhir bahagia, selamat masuk SD untuk si sulung, semoga selalu bahagia ๐Ÿ˜๐Ÿ˜

    BalasHapus
  3. Luar biasa banget ceritanya Mba. makasih lho udah sharing, pasti susah untuk cerita runtut dan jelas seperti ini. TErnyata jika Allah berkehendak, dan ikhtiar serta doa kita kenceng, insyAllah baby bisa selamat meski ibu kena rubella waktu hamil ya Mba. Semoga sehat2 terus duo cowok kecenya Mba :)

    BalasHapus
  4. Ya allah... Rubella ini ternyata bisa menyerang ibu hamil jg ya mba... Sehat terus ya

    BalasHapus
  5. aku bacanya kebawa perasaan jugaa, dari sedih banget, tp lega begitu tau si sulung sehat ya mba ;). alhamdulillah banget. udh banyak yg aku dgr efek fatal dari rubella ini :(.

    aku pas hamil ga pake tes2 juga, tp msh dilindungi yg di Atas ga terkena rubella ato penyakit fatal lainnga. Jgn ditiru sih yg begitu. cek sebelum hamil memang ptg banget

    BalasHapus
  6. Ya Allah, saya ikut sedih bacanya sampai nangis, Mam :'(
    Tapi Alhamdulillah Allah masih melindungi keluarga Mama Ayu dengan lahirnya anak yang sehat.
    Tapi kalo boleh tau waktu itu sampai terkena birus Rubella karena apa. Mam? Maaf kalo ternyata ditulis di artikel, tapi saya koq gak baca...

    BalasHapus
  7. Kak untuk pemeriksaan TORCH sebelum promil apakah harus menyertai rekomendasi dokter kandungan atau bisa langsung datang ke lab?

    BalasHapus
  8. aku baru tahu kalau waktu itu mama ayu hamil dengan rubella. senangnya kalau mama ayu, kakak ia, dan adek semua sehat2 :)

    terimakasih sudah berbagi tipsny ya mama ayu

    BalasHapus
  9. Aku membacanya pelan-pelan, bahkan ada beberapa yang diulang, biar lebih afdol!
    Ikut tegang menunggu kelahiran si sulung.

    Alhamdullillah, happy ending ya, mba
    Barokallah

    BalasHapus
  10. Aku yang cuma baca artikelnya aja ikutan sedih dan ikut merasakan kegalauan saat itu. Alhamdulillah semua baik-baik saja. Semoga Mba Ayu dan keluarga selalu dalam lindungan allah Azza Wa Jalla.

    BalasHapus
  11. Wahhhhh. Hebattt, dedek sehat n mama jg. Tmnku jg pernah kena Rubella ini mba, waktu hamil itu anaknya emosian sekali jdnya hihihi. Thank God semua sehat n lahir dgn sempurna.

    BalasHapus
  12. Mbak Ayuuuuuu, aku baca ceritamu sambil ikut deg degan Mbaaak.... I feel you, aku hamil pertama juga keguguran. Jadi ikutan mau nangis. Tapi bersyukur si kakak lahir sempurna dan sehat ya Mbak.... Semoga selalu sehat ya....

    BalasHapus
  13. Saya ikut menangis ini manakala membaca pada bagian istighfar Mama Ayu, kata dokter Diah...

    Ya Allah... Saya ga kuat juga rasanya. Alhamdulillah ya sekarang si sulung sehat dan normal mau masuk SD mungkin seumuran sama Fahmi putra saya...

    BalasHapus
  14. Mam Ayu...aku ikutan nangis dan jadi ikutan meremas tangan saat tahu rubella akan terlelap dalam darah dan bangun jika hamil lagi :(( alhamdulilah ya Mam semuanya sehat Kaka Satria n Ade Aiko *pelukk

    BalasHapus
  15. Allahu akbar, sampai nangis saya bacanya mom :')

    Tidak ada yang tidak mungkin bagiNya.
    Alhamdulillah, anak-anaknya sehat.
    Ya Allah rasanya spechless banget

    Kebayang banget bagaimana depresinya mom saat hamil, tapi Alhamdulillah, selalu tahu ke mana meminta pertolongan.

    BalasHapus
  16. Virus rubela ini memang terkenal punya dampak yang buruk bagi janin. Bisa dikatakan hanya sedikit yang mampu lahir normal. Tapi kuasa Allah ya mba. Alhamdulillah semuanya normal dan sehat.

    BalasHapus
  17. Masya Allah baca ceritanya saya terharu sendiri dengan perjuangan mom Utami. Bener ya mom semua harus diserahkan pada yang ahli dan tentu pada yang pemberi kehidupan. Ceritanya bikin lebih aware dengan kesehatan janin

    BalasHapus
  18. MasyaAllah tabarakallah. Ikut merinding dan terharu bacanya, mbak. Setahu saya kalau ibu hamil kena Rubella anak bisa saja mengalami gangguan organ tubuh tertentu. Alhamdulillah ananda sehat semua. Semoga selalu diberikan kesehatan. Tulisan ini juga bikin saya aware akan virus rubella. Kelak kalau mau program anak kedua saya mau tes TORCH.

    BalasHapus
  19. Anaknya cakep dan sehat ya moms tulisannya sangat bermanfat agat sebelum hamil sebaiknya memang chek up kesehatan smuanya

    BalasHapus
  20. Tulisannya bermanfaat banget yang ga tau itu virus rubella jadi tau dan yg persiapan hamil antisipasi dengan datang ke dokter untuk chechk

    BalasHapus
  21. Mamaaaayuuuu aku nangis lho baca ini ya Allah, peluk mamaaayu. Insya Allah aku tahun ini mau setaun sama suami namun belum rezeki d karuniai debay, dan ingin mencoba perikas TORCH ini maaa. Semoga ak d mudahkan dan d lancarkan selalu yaa

    BalasHapus
  22. Terima kasih sudah sharing Mom. Aku sampai nangis bacanya ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ. Sama tetanggaku sempat kena rubella juga. Nular dari anaknya yang sulung. Dengan doa dan usaha Alhamdulillah anaknya lahir normal. MasyaaAllah Tabarakalah.

    BalasHapus
  23. Berarti kalau mau hamil itu sebisa mungkin sehat dan vaksin ya kak Ayu, agar punya imun yang kuat.

    BalasHapus
  24. Jadi ingat temanku, saat hamil ia juga kena rubella. Dari kejadian itu waktu pas aku program hamil, minta sama dokter untuk melakukan tes juga. Karena persiapan program hamil ini saya niatkan dan yang utama itu tadi pengecekan rubella.

    BalasHapus
  25. Subhanallah Mom, aku merinding dan gak sabar bacanya. Pengen cepet-cepet ke bawah aja, kepengen tahu gimana bayinya. Dan aku ikut bersyukur, Alhamdulillah ya si sulung sehat dan normal. Sangat jarang terjadi, kehamilan rubella bisa seperti itu. Yang aku dengar, banyaknya seperti yang ditakutkan itu. Semoga ya, para ibu yang merencanakan kehamilan, dan yang sedang hamil bisa aware dengan Rubella ini.

    BalasHapus
  26. Sehat-sehat ya mba. Tak mudah memang tapi insyallah virus itu suatu saat akan benar2 hilang dari diri ya

    BalasHapus
  27. Ngeri ngeri sedap bacanya ya mbk. Alhamdulillah si sulung lahir tanpa kurang apapun. Trimakasih sharing bermanfaatnya mbk

    BalasHapus
  28. Ya ampun saya sampai merinding baca kisahnya mbak. Pengalaman yang luar biasa dan lepas dari virus itu. Semoga sehat selalu ya nak dan berbakti kepada orang tua yang doanya tidak putus terhadap kamu.

    BalasHapus
  29. Baca dari awal sambil deg-degan, soalnya saya punya teman yg terinveksi rubella saat hamil dan anaknya lahir tunarungu, sekarang pasang alat bantu dengar.
    Alhamdulillah cerita kehamilannya happy ending ya, Mbak, si sulung sehat dan normal.

    BalasHapus
  30. Aku bacanya takut2, sumpah ya, takut bgt ga tahu kenapa. Tapi karena kepo aku baca juga dan yess, emang perempuan rentan bgt ya sama penyakit. Lagi hamil aja ada gitu yg bisa menimpa. Semoga ini bisa jadi pembelajaran buat kita semua.

    BalasHapus
  31. Ya Allaaaah alhamdulillah anaknya sehat walfiat ya mbak, thanks for sharing mbak

    BalasHapus
  32. Memang ibu hsmil yang sakit akan menimbulkan dampak terhadap bayi, Alhamdulillah bayi lahir sehat, ya mbak.

    BalasHapus
  33. Alhamdulillah ya mom bayinya lahir sehat sempurna. Semoga sehat terus ya sulung..

    BalasHapus

Selamat datang! Terima kasih telah berkunjung.

Silakan tulis komentar :)

Cara mengisi komentar::
Pilih NAME/URL lalu isi dengan URL blog. URL Blog, bukan URL postingan. JIka tidak punya blog, kosongkan saja kolom URL, namun jangan lupa isi namanya supaya tidak masuk SPAM. Terima kasih :)

@mamaayuutami