Covid 19 Nyatakah? Berikut Kisah Dwie Prabawaningsih Saat Suami Terbukti Positif Virus Corona


Hi Moms, apa kabar? Semoga moms serta keluarga diberikan kesehatan dan selalu dalam lindungan Allah ya. Cukup lama saya vakum menulis artikel blog karena kesibukan saya bersama anak suami dan bisnis rumahan mengisi waktu dari pandemi yang belum juga usai.

Berbicara tentang pandemi virus covid 19 atau biasa disebut virus corona ini sebenarnya cukup menguras tenaga dan pikiran. Walau saya dan suami komit untuk terus menerapkan protokol kesehatan bersama anak-anak di rumah, namun terkadang ada tanda tanya besar tentang virus corona.

TIba-tiba kemarin, entah kenapa saya ingin silaturahmi dengan beberapa teman baik saya, sekedar bertanya kabar mereka saat ini melalui whatsapp. Sebagian besar teman baik saya, alhamdulillah dalam keadaan baik, sedikit curhat dan berbagi cerita kami lakukan, lalu saya tertegun saat membaca pesan whatsapp salah satu teman saya, " Qadarulloh suamiku sedang opname di RS karena positif virus corona Maiko" kata temanku.

Wajah saya seketika panas dan menahan nafas, membayangkan perasaan teman saya saat ini yang sedang terkena musibah karena suaminya terbukti positif virus corona. Saya mencoba bertanya sekali lagi tentang hal ini untuk menyakinkan diri dan ternyata benar. Teman baik saya mom Dwie Prabawaningsih saat ini sedang menanti suaminya yang sedang berjuang melawan virus corona.

Jujur, saya ingin mengetahui tentang wabah ini lebih dalam, karena saya hanya mengetahui virus ini dari berita atau media sosial saja, tapi tidak mengetahui langsung dari yang bersangkutan. Saya memberanikan diri untuk bertanya lebih detil tentang kisah teman saya ini, beruntungnya, ia  mengizinkan saya untuk menuangkan dalam artikel blog, katanya supaya  moms atau pembaca lainnya dapat mengantisipasi wabah ini bersama keluarga di rumah. Dan berikut penuturan mom DS Prabawaningsih yang telah saya rangkum :

Q : Saya

A : Mom Dwie

Q : Bagaimana awalnya suami bisa ketahuan terbukti positif covid?

A : Bulan lalu, suami aktivitas seperti biasa, ke manapun, ia melakukan protokol kesehatan dengan patuh, tapi suami sempat makan snack bareng teman-temannya yang waktunya tidak lebih dari 10 menit saat makan, kemudian setelah makan langsunh pakai masker lagi. Sepertinya dari situ suami terkena covid, karena kita ngga tahu siapa OTG(Orang Tanpa Gejala) yang membawa virus itu.

Q :   Gejalanya seperti apa mom?

A :   

Hari 1: Demam, lidah pahit, mual, pusing.

Hari 2: Demam, lidah pahit, mual, pusing. Ke dokter, indikasi awal tipus karena suami punya riwayat tipus.

Hari 3: Demam turun, lidah pahit, tidak napsu makan, pusing.

Hari 4: Sama dengan hari ke 3, ditambah sakit tenggorokan.

Hari 5: Kondisi tidak membaik, lalu dokter menyarankan cek darah. Trombosit dan leukosit turun.

Hari 6: Kondisi tidak membaik, mulai batuk dan diare. ( Ambil inisiatif mendaftar test swab ).

Hari 7: Kondisi tidak membaik, batuk makin parah, diare, lemas.

Hari 8: Sudah tidak diare, namun gejala tidak berangsur berkurang. Melakukan swab.
    
Hari 9: Swab dinyatakan positif, langsung ke dokter. Cek lab dan thorax. Setelah hasil lengkap, suami berinisiatif ke RS Rujukan supaya dapat dilakukan pengecekan lebih lanjut.



Saat mom Dwie bercerita, saya yakin hatinya masih sesak dengan kejadian yang menimpa suami dan keluarganya, saya mencoba mengurungkan niat untuk bertanya lebih jauh, namun mom Dwie meyakinkan saya untuk terus bertanya lebih jauh, karena ia ingin semua orang tahu lebih jauh tentang bahaya virus ini. Akhirnya pertanyaan saya lanjutkan.

Q :    Bagaimana perasaan mom DS saat tahu suami positif covid 19 dan harus diopname?

A :    Aku shock dan nangis Maiko, seperti disambar petir, tapi aku harus menguatkan hati, demi anak-anak.

 

Q :    Lalu, bagaimana dengan mom dan anak-anak, baik-baik saja kah saat ini? Aku cemas.

A :    Kami langsung swab juga setelah suami hasil swab terbukti positif virus corona, dan alhamdulillah aku dan anak-anak hasil swabnya negatif.

Mengalir air mata saya, mendengar penuturannya, ada rasa lega namun bercampur sedih karena kondisi suaminya.

Q :    Apa yang mom kemudian lakukan saat suami opname di RS?

A :    Aku menghubungi pegurus lingkungan, RT, RW dan tetangga-tetangga, karena aku punya tanggung jawab sosial untuk menginformasikan keadaan suami dan keluarga, selain itu kita butuh tetangga untuk bantu kita. Nah di sini psikis kita diuji Maiko. Ada tetangga yang langsung menjauh, ada yang panik langsung, ada juga yang langsung ngasih bantuan entah doa, makanan atau yang lain. Setelah itu aku kerja bakti beberes rumah, disinfektan, memilah dan mencuci baju suami yang terpisah dari aku dan anak-anak.

 

Q :    Saat suami  positif dan ke RS Rujukan, apa yang disiapkan mom Dwie untuk dibawa suami ke RS? Misal, vitamin2an, minyak-minyakan dll.

A :    Saat itu hanya membawa 1 tas ransel saja, Isinya handphone, handuk, baju ganti 1 stel, minum, charger handphone. Nah pas akhirnya dirawat, baru besoknya aku bawain laptop (penting sekali ini supaya ngga jenuh), buku, al-quran, alat sholat, alat mandi, camilan dan  minyak kayu putih. Dari RS rupanya disediakan baju RS. Tapi kemarin saat aku antar baju sekalian swab dengan anak-anak, petugas RS mengingatkan aku seperti ini "Untuk baju yang diterima dari RS, nyucinya dipisah ya bu. Virus memang mati kena detergent, namun baiknya dipisah mencucinya dengan baju anggota kelaurga yang lain". Makanya, sampai di rumah itu, aku  kerja bakti lagi membersihkan rumah. Mulai dari baju yang dipakai suami  selama sakit, alat sholat yang di rumah, handuk, alat sholat pergi, selimut, sprei sampe semua bantal, aku cuci Maiko. Aku ngga membawakan suami vitamin, karena pasti di RS sudah disiapkan vitamin dan obat lainnya.


Q :     Mom... ( Baru saya mau melanjutkan pertanyaan selanjutnya)

A :    Capek banget fisikku, plus nungguin hasil swab aku dan anak-anak saat itu, bikin mental aku drop juga. Plus biaya yang tidak sedikit. Jadi, covid ini jahat banget Maiko, ngga cuma fisik yang dia serang, tapi keuanganpun ikut diserang.

Aku hanya terdiam, karena merasa bersalah tidak peka dengan wa storynya yang sejak lama  lalu lalang di story Whatsappku.

Q :    Mom Dwie bayar biaya test swab dan opaname RS dengan biaya sendiri kah?

A : Iya Maiko, Swab suami dan opname sampai hari ke 11, di cover kantor. Setelah itu dicover oleh pemerintah. Untuk swab aku dan anak-anak lakukan secara mandiri karena saat itu yang terpikir, harus segera swab setelah suami positif.

Alhamdulillah...

 


Q :     Apa saran mom Dwie untuk moms atau pembaca artikel blog Maiko ini menghadapi virus corona?

A :

1. Orang lebih sadar bahwa covid ada dan nyata. Jadi jangan sepelekan pemakaian masker dan cuci tangan.

2. Pakai masker.  ( ini benar-benar ditekankan mom Dwie).

3. Tidak merokok.

4. Sering-sering cuci tangan air mengalir.

5. Bawa handsanitiser jika terpaksa bepergian. 

6. Stay at home. Tidak perlu kumpul-kumpul atau makan bersama. Karena saat kita membuka masker, kita tidak pernah tahu siapa saja OTG sekitar kita.

7. Jika ada keluarga atau tetangga kita yang terkena covid, support. Jangan biarkan ia isolasi mandiri tanpa dukungan. Berikan dukungan berupa doa, siapkan makanan atau kebutuhan lain.

8. Waspada virusnya, jangan kucilkan penderita atau keluarganya.

 

Q :     Jika ada keluarga atau tetangga kita yang terkena covid bagaimana mom Dwie?

A :     
1. Jangan panik. Walau sangat tidak mudah melakukan tidak panik. Lalu, mau dikemanakan yang positif ini? Ke puskesmaskah? RS negeri rujukan atau RS swasta rujukan kah? Memang tidak semua akan di rawat, tapi baiknya kita pastikan untuk biaya jika harus di rawat.

2. Langsung jadwalkan untuk swab (no rapid ya Maiko, HARUS SWAB). Swab gratis diberikan puskesmas untuk keluarga satu rumah yang kontak erat. Atau sekarang sudah banyak swab dengan harga terjangkau.

3. Jaga jarak dengan penderita. suami dari awal sakit, sudah pisah kamar dan pisah kamar mandi. Setelah itu saat merasa harus swab, langsung pakai masker di rumah.

4. Disinfektan seluruh rumah, cuci baju dan kain yang tersentuh penderita, namun dipisahin. Jangan dicampur dengan baju non penderita.

5. Ikhlas. Pasti ada hikmah di balik semua peristiwa. 

Sekarang suami mom Dwie sudah hari ke 17 opname di RS, namun belum diperbolehkan pulang, karena hasil swab lanjutan masih positif. Semoga suaminya diberikan kekuatan oleh Allah untuk berjuang sembuh dari virus ini. Dan dapat segera berkumpul bersama keluarga dalam keadaan sehat. Aamiin...

Sedih rasanya mengetahui keadaan suami salah satu teman baik saya terbukti positif virus corona. Dengan kisah mom Dwie Prabawaningsih ini, semoga dapat menjadi pelajaran bagi kita untuk selalu waspada, dan yakin bahwa virus Covid 19 adalah nyata. Be safe everyone, patuhi selalu protokol kesehatan dengan baik. Dan semoga kita selalu dalam lindungan Allah. Aamiin...

  

 

Terima kasih untuk mom Dwie yang secara sukarela menjadi narasumber saya di artikel kali ini.

15 komentar

  1. Aku dan suami sudah sebulan positif, dan isolasi mandiri di rumah mba. Syukurnya kami tanpa gejala sampe saat ini, mungkin Krn disupport immune system' yg bagus. Awalnya mama yg terkena covid pas awal Agustus, dengan gejala sama kayak temen mba. Tapi waktu itu nth kenapa kami ga merasa itu covid, Krn mama ga prnh kluar rumah. Rumahku dan mama beda sbnrnya, tp mama serumah Ama Abang ipar, dan dia msh kluar masuk rumah Krn kerja kan.

    Aku sempet jenguk mama pas HR mau dibawa k RS, setelah itu mama dibawa lgs Ama suami ke 3 RS, 2 diantara nya menolak dgn alasan penuh, dan baru rscm yg mau terima. Itupun setelah melihat kondisi mama, pak suami lgs dilarang DTG, jd semuanya dikabarin lwt telp Ama petugas. Mama dimasukin k ruang isolasi, sampe hasil tes kluar.

    Yg bikin kami sedih sbnrnya, saat mama masuk RS kondisi lgs drop, sesak napas, tp ventilator abis. Penyakit ini bener2 menyerang cepet utk orangtua. Krn cm semalam mama di RS, dan besok malamnya meninggal. Hasil tes kluar dan positif. Artinya kami ga bisa bawa jenazah mama dan hrs pasrah mama diurus RS sampe saat pemakaman di tempat khsus. Orang2 yg masih menganggab ini konspirasi mungkin hrs tau rasa sakit melihat orang yg paling kita sayangi meninggal tp kita ga bisa mendeket dan memberikan penghormatan terakhir. Cuma doa dari jauh.

    Aku dan suami, Abang ipar, semua yg di rumah mama tes swab. Hasilnya yg negatif suami, aku, dan asisten mama.tp asisten mama tertular dr mama, Krn diapun ga prnh kluar samasekali, selalu dideket mama.

    Tx God, asistenku Dan anak2 negatif. Kami skr hanya isolasi mandiri di rumah, pisah kamar dr anak2. Fokus ke imun sistem. Makan buah, sayur, vitamin dan suplemen itu komplit jadwalnya :). Udah 3x swab , sebulan, dan msh positif. Tp aku optimis, Krn temen adekku yg dokter, sampe tes k6 baru negatif. Yg ptg jgn bergejala dulu. Tes k4 kami lakuin 2 Minggu lagi mba. Semoga udh negatif. Kalo belum, ya isolasi lagi sampe akhirnya hal tes negatif :).

    Berharap orang2 mau patuh dengan protocol kesehatan skr, dan ga menganggab dirinya kuat dan sehat, lalu jd ga peduli Ama org lain. :( . Percaya deh, ga ada yg kepengin melihat orangtuanya dikabarin sesak napas, tp ventilator sdg kosong, dan hanya diksh alat pernapasan biasa hingga meninggal. Itu sakit banget ngerasain nya.. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.. semoga almarhumah mama diampuni segala dosanya, ditempatkan d tempat terbaik ya Mbak...

      Virtual hug buat Mbak Fanny

      Hapus
    2. Mba Fanny.. turut berduka cita ya Mba, semoga ibunda diberikan tempat terbaik disisi-Nya. Amiin. Speed recovery juga untuk Mba Fanny dan suami.

      Hapus
    3. turut berduka Mbak Fanny, semoga Almh. diberi tempat terindah di sisiNya.
      semoga hasil swab berikut dari Mbak Fanny dan suami negatif ya. Virus ini benar-benar menakutkan.

      tuk Suami Mbak Dwi juga moga segera pulih dan hasilnya negatif.

      Hapus
    4. innalillahi, sekarang memang banyak orang yang tanpa gejala ya mbak. Jadi harus selalu memakai masker kemana-mana. Temannya mbak hebat tapi merasa punya tanggung jawab sosial lalu lapor RT setempat. Di dekat rumahku ada anaknya yang positif, tidak lapor ke RT lalu bapaknya masih shalat ke masjid. Begitu ketauan warga baru deh ditegur tu bapak gak boleh keluar rumah harus isolasi mandiri.

      Hapus
  2. Innalillahi, memang benar-benar COVID ini virus yang sangat jahat ya Mba. Kita harus berikhtiar sebisa mungkin untuk bisa menghindarinya, salah satu caranya adalah dengan menerapkan protokol kesehatan dan tidak keluar rumah kecuali untuk urusan penting.

    BalasHapus
  3. masih banyak banget yang nyepelein corona. apapun itu bentuknya, dibilang bokis lah, hoax.. tapi tetep aja kita harus jaga kesehatan. tahan2 lah yg mau jaln2 keluar kl ga penting bgt.saya pribadi juga heran sama orang yang tanpa masker keluar rumah ;(

    BalasHapus
  4. Sedih bgt bacanya, membandingkab dg kenyataan bahwa masih banyak orang yg ga peduli dan menganggap covid itu hanya mitos, padahal udah banyak bukti nyatanya😭

    BalasHapus
  5. Dukungan. Yes, penting bangat buat pasien yang terkena covid-19. Dengan dukungn dari keluarga dan beberapa pihak akan meminimalisir perasaan negatif yang muncul. BIsmillah... semoga semua lekas pulih dan sehat2 ya

    BalasHapus
  6. Covid memang nyata mba, kita harus benar-benar jaga jarak dan patuh sama protokol kesehatan. Hindari deh memang tempat-tempat yang terlalu crowded gitu.

    BalasHapus
  7. Ya Alloh sedih banget baca ini. Mataku langsung berkaca2.. aku ga bisa bayangin gimana kalo ada anggota keluargaku kena covid ini.. harus bener2 jaga kesehatan & terapkan protokolnya terus menerus sampe badai ini benar2 berakhir

    BalasHapus
  8. Yaallah.. aku sebagai generasi muda mau minta maaf nih kalo kalangan aku masih suka ada yg bandel dan nyepelein:( sedih banget mungkin mereka yang seperti itu ga merasa karena orang terdekatnya ga positif covid. Huhu bismillah semoga pada sehat sehat semua yaa aamiin

    BalasHapus
  9. Semoga suami Mba Dwie bisa segera pulih dan bisa berkumpul dengan keluarganya. Yang penting tetap semangat dan berjuang

    BalasHapus
  10. Banyak inner circle ku yang juga terpapar covid-19 malah ada yang masuk ke wisma atlit juga. So yes, this pandemic is real

    BalasHapus
  11. Bener2 harus patuh protokol kesehatan ya, sedih bacanya :(
    Ingin pandemi segera berakhir biar kita bisa beraktifitas tanpa rasa khawatir. Sekarang mau kemana2 pun khawatir ya.

    BalasHapus

Selamat datang! Terima kasih telah berkunjung.

Silakan tulis komentar :)

Cara mengisi komentar::
Pilih NAME/URL lalu isi dengan URL blog. URL Blog, bukan URL postingan. JIka tidak punya blog, kosongkan saja kolom URL, namun jangan lupa isi namanya supaya tidak masuk SPAM. Terima kasih :)

@mamaayuutami