Pengalaman Suami Pulang Berlayar Dari Luar Negeri Saat Pandemi

 

Pandemi

" Ma, tiket pulang sudah ditangan, insya Allah tanggal sekian bulan September papa pulang" isi whatsapps dari suami. Kaget campur happy saat membaca pesannya, beberapa minggu lalu, ia memang menginformasikan pada saya, kalau akan pulang ke Indonesia dalam waktu dekat, namun siapa sangka ternyata hari yang dinanti tiba. 

Saya girang dan memberi kabar pada keluarga besar saya. Sebelum hari H suami pulang, 2 hari sebelumnya dilakukan PCR, dilakukan oleh dokter yang langsung datang ke kapal, sempat cemas karena khawatir hasil PCR-nya kurang baik, ternyata Alhamdulillah hasil PCR suami dinyatakan negatif.

Saat membuka berita online, diinformasiksn bahwa penumpang pesawat dari luar negeri diwajibkan melakukan karantina setelah pesawat tiba di bandara Soekarno Hatta. Sayapun langsung mencari sumber validnya di  website Kementerian Luar Negeri , supaya informasi yang saya terima tidak simpang siur. 

Hari kepulangan suami tiba, suami sudah standby di bandara Luar Negeri sejak pagi, padahal jadwal penerbangan pada siang hari. Proses di bandara seperti biasa, check-in pesawat dan proses imigrasi sebelum masuk ke ruang tunggu pesawat. Suami meminta saya untuk tidak whatsapp dulu saat itu, karena proses check-in pesawat dan imigrasi yang memakan waktu cukup lama, takut tertinggal pesawat. 

Pandemi

Akhirnya suami WA kalau ia sudah ada di dalam pesawat. Pesawat transit di Singapore, kemarin saat suami pulang, bandara di Singapore sangat ketat, banyak toko souvenir yang tutup, jadi suami tidak sempat membeli souvenir untuk saya huhuhu...


Tiba Di Indonesia

Pesawat sampai di Indonesia sekitar pukul 18.15 WIB, suami memberi kabar kalau ternyata memang harus karantina, walau hasil PCR dari negara asal dinyatakan negatif, di sini prosesnya cukup lama, karena penumpang harus antri untuk dilakukan Swab dan mengisi formulir untuk memilih di mana karantina akan ditempatkan. Sayangnya suami tidak membawa cemilan atau makanan yang cukup di tasnya, jadi lumayan lapar katanya saat itu, saran saya jika moms pulang dari luar negeri, siapkan cemilan dan minum di tas untuk jaga-jaga.

Jam menunjukkan pukul 22.00 WIB, tiba-tiba suami memberi kabar lagi katanya ia sudah ada di bus bersama kawan-kawan kapal dan penumpang pesawat lain, sedang menuju tempat karantina di Wisma Pademangan, jadi kata suami, penumpang yang kembali dari luar negeri dikarantina di Wisma Pademangan sambil menunggu hasil Swab dan gejala, jika hasil swab positif atau bergejala, langsung dipindahkan di Wisma Atlet. Bersyukur hasil swab pertama suami negatif.

Pukul 23.55 WIB suami kembali memberi kabar kalau ia dan teman-temannya telah dapat kamar dan izin tidur karena sangat lelah. Sayapun lega seraya mengiyakan permintaannya itu.

satu, dua, tiga hari masih karantina, karantina dilakukan sekitar 7 hari, hari ke-6 dilakukan swab kembali, dan hari ke-7 jika hasilnya negatif, akan diizinkan pulang. Alhamdulillah hasil swab kedua suami negatif, dan diizinkan pulang.

Sekedar informasi, di dalam Wisma Pademangan memiliki kantin, jadi penumpang yang dikarantina selain dapat jatah makan, juga dapat membeli di kantin ini, kemudian bisa dimakan di kamar.

Pulang

Hari kepulangan tiba, suami menerima surat penyataan bahwa diperbolehkan pulang, ia meminta saya dan anak-anak menjemputnya pulang. Anak-anakpun girang bisa menjemput dan segera bertemu papanya.

Sambil menunggu kami menjemput, suami berinisiatif melakukan vaksin pertama di area Wisma Pademangan, hanya dengan menunjukkan KTP dan surat pernyataan boleh pulang tersebut. Prosesnya mudah dan cepat katanya.

Wajah sumringah dan haru terlihat saat anak-anak menyambut papanya keluar dari Wisma Pademangan. Welcome home hubby, welcome home papa.

"Yuk nak, kita pulang ke rumah", katanya :)

1 komentar

  1. Happynyaaaaa :D. Memang ya mba, sekarang ini traveling dan bepergian kemana aja jadi ga mudah. Jujur ini juga alasan kenapa aku msh belum maju traveling, walopun beberapa negara udah buka pintu utk turis. Aku kuatir masalah karantina dll nya. Apalagi untuk suamiku yg cutinya kan terbatas. Kalo harus ditambah karantina juga ga bakal cukup :(. Makanya aku putusin, aku baru akan traveling lagi, kalo memang aturan karantina sudah dihapus. Beberapa negara lain udh ga mengharuskan juga asal sudah vaksin komplit.

    Semoga nanti proses saat sudah harus kembali bertugas, tidak rumit dan dimudahkan yaaaa ;)

    BalasHapus

Selamat datang! Terima kasih telah berkunjung.

Silakan tulis komentar :)

Cara mengisi komentar::
Pilih NAME/URL lalu isi dengan URL blog. URL Blog, bukan URL postingan. JIka tidak punya blog, kosongkan saja kolom URL, namun jangan lupa isi namanya supaya tidak masuk SPAM. Terima kasih :)

@mamaayuutami